Tentang Kematian


Dalam seminggu terakhir, dua kali saya bertakziyah. Senin lalu, istri teman seangkatan saya semasa kuliah meninggal dunia. Lalu kemarin, ibu dari sahabat saya juga berpulang. Saat mendengar kedua kabar itu, hati saya mencelos.

Dalam sembilan tahun terakhir, saya sendiri sudah kehilangan ibu mertua, bapak, dan ibu saya. Ketiganya dipanggil Tuhan setelah mengalami sakit.

Sepertinya, semakin bertambah usia, semakin banyak orang terdekat yang pergi. Begitu pula orang-orang terdekat dari teman dan sahabat kita. Kematian yang dahulu terasa jauh, perlahan menjadi sesuatu yang semakin akrab dengan kehidupan sehari-hari.

Terakhir kali saya kehilangan orang terdekat adalah pada 2024, saat ibu saya berpulang. Masa berduka yang paling berat memang sudah lewat. Namun, tetap saja, tidak ada yang benar-benar bisa mengobati patah hati karena ditinggalkan orang-orang tersayang. Yang bisa saya lakukan adalah terus mendoakan mereka, mengenang hal-hal terbaik yang pernah kami lalui bersama, dan melanjutkan hal-hal baik yang mereka ajarkan serta lakukan semasa hidup.

Tahun depan, usia saya genap 40 tahun.

Kata orang, usia 40 adalah titik balik kehidupan. Life begins at 40, begitu katanya. Usia ketika seseorang dianggap telah cukup merasakan asam garam kehidupan untuk menjadi versi dirinya yang lebih matang dan bijaksana.

Namun, bagi saya, usia 40 juga berarti satu hal lain, yaitu semakin dekat dengan kematian. Kesadaran yang semestinya membuat saya semakin bersungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Hal yang paling sering membuat saya berpikir menjelang usia 40 bukanlah kematian itu sendiri, melainkan apa yang akan terjadi pada anak dan istri saya ketika kelak saya berpulang.

Apakah mereka akan baik-baik saja? Apakah anak saya akan tumbuh menjadi seseorang yang mandiri, yang mampu menjalani kehidupannya sendiri? Apakah saya sudah cukup mempersiapkan mereka untuk menghadapi kehidupan tanpa kehadiran saya?

Barulah setelah itu saya berpikir tentang diri sendiri. Tentang bekal yang sudah saya kumpulkan untuk kehidupan setelah kematian. Apakah sudah cukup?

Efek Rumah Kaca (ERK), dalam lagu Putih, menyebut kematian sebagai sebuah keniscayaan. Bagi saya, lagu ini bukan sekadar berbicara tentang akhir kehidupan, tetapi juga tentang penerimaan terhadap sesuatu yang tak terhindarkan.

Dan kematian keniscayaan
Di persimpangan atau kerongkongan
Tiba-tiba datang atau dinantikan
Dan kematian kesempurnaanDan kematian hanya perpindahan
Dan kematian awal kekekalan

Dan kematian hanya perpindahan
Dan kematian awal kekekalan

Ada bagian dalam lagu tersebut yang menggambarkan perasaan telah usai sekaligus menjadi lengkap. Seolah-olah kematian bukan lagi sesuatu yang perlu dilawan dengan ketakutan, melainkan sesuatu yang bisa disambut setelah seseorang berdamai dengan kefanaan dirinya.

Akhirnya aku usai juga
Kini aku lengkap sudah

Embrace the death. Menerima kematian bukan berarti menyerah pada kehidupan. Justru sebaliknya, kesadaran bahwa hidup ini terbatas semestinya membuat kita lebih menghargai setiap waktu yang masih kita miliki.

Dalam Al-Qur’an, Surah Ali Imran ayat 185, disebutkan bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Sebuah pengingat sederhana, tetapi begitu mendasar, yaitu kematian bukan kemungkinan yang hanya akan dialami sebagian orang. Ia adalah kepastian bagi kita semua.

Mungkin, karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukanlah bagaimana menghindari kematian, melainkan bagaimana menjalani kehidupan sebelum kematian itu tiba.

Pada akhirnya, kita semua hanya sedang menunggu giliran. Entah kapan, entah di mana. Tidak ada yang benar-benar tahu berapa banyak waktu yang tersisa.

Karena itu, saya ingin memanfaatkan waktu yang ada sebaik-baiknya. Memaknai kebersamaan dengan orang-orang tersayang. Berusaha menjadi orang yang baik dan bermanfaat. Sedapat mungkin tidak menyakiti hati orang lain. Dan, tentu saja, mengumpulkan sebanyak-banyaknya bekal untuk kehidupan setelah kematian.

Ada satu hal lain yang terasa semakin penting bagi saya, yaitu meninggalkan warisan untuk Bara, anak saya.

Bukan semata-mata warisan materi, melainkan nilai-nilai kehidupan yang bisa menjadi pegangannya ketika dewasa nanti. Nilai-nilai yang tetap bisa ia bawa, bahkan ketika saya sudah tidak lagi ada di sisinya.

Salah satunya adalah integritas. Tentang bagaimana menjadi orang yang memegang teguh kebenaran dan kejujuran, bahkan ketika keduanya tidak selalu menjadi pilihan yang mudah. Tentang bagaimana tetap melakukan hal yang benar, meskipun tidak ada orang yang melihat atau memberikan penghargaan.

Saya tidak tahu apakah kelak anak saya akan mengingat semua nasihat yang pernah saya berikan. Saya juga tidak tahu apakah saya akan berhasil menjadi teladan yang baik baginya. Namun, setidaknya, saya ingin terus berusaha menanamkan nilai-nilai itu selama saya masih punya waktu.

Sebab, pada akhirnya, mungkin itulah salah satu cara manusia tetap hidup setelah kematiannya, melalui kenangan, doa, perbuatan baik, dan nilai-nilai yang diteruskan oleh orang-orang yang ditinggalkannya.

Seperti pesan yang saya tangkap dari penutup lagu Putih karya ERK, kebenaran dan kejujuran tidak semestinya ikut mati bersama manusia yang memperjuangkannya. Keduanya harus terus hidup, tumbuh, dan bermekaran melalui generasi berikutnya.

Dan tentang kebenaran
Juga kejujuran
Takkan mati kekeringan
Esok kan bermekaran

Dan jika suatu hari nanti saya harus berpulang, saya berharap ada hal-hal baik dalam diri saya yang tetap hidup melalui anak saya.

Tabik.