Tentang Hobi Nonton Film


Tak terasa sudah 7 bulan pandemi covid-19 berlangsung di Indonesia. Sampai kapan? Entahlah. Sudah ngapain aja selama 7 bulan ini? Kalau kami sih Alhamdulillah masih tetap melakukan social distancing sampai hari ini. Keluar rumah cuma untuk hal-hal sangat penting, seperti masuk kantor dan belanja bahan pokok. Masker dan hand sanitizer pun menjadi bawaan wajib kalau keluar rumah. Hiburan berupa traveling yang dulu rutin kami lakukan, sudah berganti menjadi rebahan sambil nonton film di OTT layanan streaming.

Kalau soal nonton film, sebenarnya sudah menjadi hobi saya sejak dulu. Bagi generasi yg tumbuh tahun 90an – 2000an, siapa sih yang waktu kecil enggak nonton serial kartun di TV tiap hari minggu? Pengen banget nonton film anak-anak di bioskop sebenarnya. Tapi karena di dekat tempat tinggal saya tidak ada bioskop, jadinya cuma tahu film-film Disney seperti Lion King, Pocahontas, Hunchback from Notre Dame, dan sebagainya hanya dari lembaran Majalah Bobo. Itu waktu saya SD.

Beberapa koleksi DVD Disney dan Pixar milik saya

Begitu menginjak SMP, selera film mulai agak berubah. Tidak sebatas film animasi. Selain nonton program Layar Emas di salah satu TV Swasta, pengalaman saya nonton film Hollywood adalah di rumah seorang teman. Nonton VCD bajakan yang disewa. Serunya nonton Keanu Reeves dengan gaya cool-nya menghindari peluru di The Matrix, deg-degannya nonton adegan Pierce Brosnan bermesraan dengan Teri Hatcher yang tampak belakang cuma pakai celana dalam hitam dalam James Bond Tomorror Never Dies, adalah segelintir adegan yang membekas bagi saya waktu itu. Walaupun saat itu saya tidak terlalu mengerti cerita filmnya karena kualitas gambar VCD bajakan yang buram dan subtitle yang amburadul, tetapi sensasi menonton film bersama teman-teman masih terekam di ingatan saya. Selain film, nonton serial TV pada jamannya seperti Buffy The Vampire Slayer yg dibintangi Sarah Michele Gellar, Roswell, Smallville, dan Dawson’s Creek, juga menemani masa remaja saya. Dan tentu saja nonton acara Cinema Cinema di RCTI yang dipandu Mayong dan Ira Wibowo. Cuma dengar sinopsis film dan nonton trailer di acara itu saja sudah menghangatkan hati saya.

Hobi nonton saat SMA sedikit naik kelas. Sewa VCD asli. Di masa SMA juga inilah pertama kali saya nonton bioskop. Demi nonton bioskop rela menempuh jarak puluhan km ke Semarang. Biarkan Bintang Menari, film musikal yg dibintangi oleh Ariyo Wahab dan Ladya Cheryl adalah film pertama yg saya tonton di bioskop. Bahkan saking inginnya saya bernostalgia dengan film itu, beberapa waktu lalu saya beli VCD aslinya di sebuah lapak jualan di instagram.

Hobi nonton film saya makin naik kelas ketika saya kuliah. Circa 2005 – 2007, hampir setiap minggu saya pasti nonton film di bioskop. Rela deh irit makan cuma 2 kali sehari demi nonton film di bioskop. Film-film blockbuster yg rilis di bioskop masa itu hampir pasti saya nonton di bioskop. Nonton sendirian dan midnight pun saya bela-belain. Itu untuk film-film baru yang tayang di bioskop. Untuk film lama, saya dapat dari sewa VCD / DVD di Video Ezy atau Ultra Disc. Dan kalau suka banget sama filmnya, sampai saya copy di CD / DVD kosong menggunakan software Nero Burning. Saat itu saya juga sering membeli majalah Cinemags dan Movie Monthly sebagai referensi. Menjelang masa akhir kuliah, referensi tontonan juga mulai bertambah dengan serial Hollywood dan Jepang hasil bertukar file video divx dengan teman-teman, yaitu Heroes dan Prison Break yg saat itu booming. Dan serial One Litre of Tears yang tentu saja membuat saya menangis nontonnya yang akhirnya membuat saya suka juga dengan drama Jepang.

Family Movie Time sama anak lanang di bioskop

Kenyamanan nonton di bioskop mulai menghilang ketika sejak 2008 sampai 2014 saya tinggal di Banda Aceh, sebuah kota yang tidak memiliki bioskop. Maka hobi nonton film kembali ke DVD bajakan. Pada masa itu, buat yang tinggal di Banda Aceh pasti kenal sebuah tempat di kawasan Jl TP Polem bernama Intense. Nah, di sanalah saya berburu DVD bajakan berkualitas bagus dari film-film terbaru. Dan karena saat itu saya sudah mulai memiliki penghasilan sendiri, saya mulai berburu DVD original beberapa film yang saya sangat suka, terutama film Indonesia. Dan yang paling berkesan bagi saya adalah DVD original film Pintu Terlarang dan Rumah Dara yg menurut saya isinya mewah sekali. Lengkap dengan easter eggs dan audio commentary. Selain film-film Hollywood, di masa itu saya juga mulai merambah tontonan lain, yaitu film horror dari Thailand. Saya masih ingat banget nonton film horror Thailand berjudul Coming Soon ramai-ramai bersama teman serumah. Seru banget karena yang nonton penakut semua. Saat itu kami tinggal di sebuah ruangan luas untuk ramai-ramai di sebuah gedung bekas kantor instansi kami. Nonton malam hari, lampu dimatikan dan suara filmnya dikencengin. Sensasi horror-nya mantap.

Referensi nonton drama Jepang juga mulai kembali muncul. Saat itu sumbernya dari hasil mengunduh di indowebster. Saat itu demi memuaskan hasrat mengunduh dan nonton drama Jepang, saya sampai langganan paket unlimited Halo Flash dari Telkomsel seharga 400 ribu sebulan! Sangat mahal tentunya untuk tahun segitu. Tapi saat itu saya merasa perlu dan sangat puas bisa nonton semua banyak serial drama Jepang yang seru-seru. Sebutlah Gokusen, My Boss My Hero, Proposal Daisakusen, Nodame Cantabile, Buzzer Beat, dan tentu saja drama yang dibintangi Takuya Kimura mulai dari yg lawas seperti Love Generation dan Long Vacation sampai yg baru seperti Hero dan Mr Brain. Bahkan sampai sekarang, masih saya simpan file hasil unduhannya.

Walaupun stok hiburan nonton film cukup banyak, tetapi kadang masih ingin nonton bioskop, terutama ketika film-film yang menurut saya bagus, sedang tayang. Kalau sudah seperti itu, terpaksalah berangkat ke ibukota provinsi terdekat, yaitu Medan. Bahkan pernah sekitar tahun 2012 ada permasalahan pajak impor oleh importir film yang menyebabkan terkendalanya penayangan film di seluruh Indonesia, saking inginnya nonton Avengers, waktu itu saya bela-belain terbang ke Kuala Lumpur untuk nonton. Tidak rugi sih bisa nonton Avengers di layar IMAX di bioskop Golden Cinema Screen, secara tiket pesawat Banda Aceh – Kuala Lumpur PP saat itu juga relatif sangat murah. Baru kemudian pada tahun 2014, kenyamanan nonton bioskop setiap saat mulai kembali lagi ketika saya tinggal dekat dengan Jakarta lagi.

Ketularan Bapak dan Ibunya, anak lanang juga suka nonton bioskop

Dan datanglah pandemi covid-19 sekitar bulan Maret tahun ini. Pada awal pandemi maret lalu saya belum kepikiran untuk berlangganan OTT layanan streaming untuk memuaskan hobi nonton saya dan istri. Saya saat itu masih optimis bahwa pandemi tidak akan lama dan bioskop akan segera beroperasi kembali. Tapi melihat realitas yang malah semakin parah, akhirnya saya berdamai dengan keadaan, bahwa akan lebih lama lagi saya bisa kembali nonton film di bioskop. Pun dengan hobi traveling, tentu sudah tidak bisa dilakukan dengan leluasa selama pandemi. Jadilah, dana yg biasanya kami sisihkan untuk liburan kami alihkan untuk membeli Smart TV, pasang home internet, dan mulai berlangganan OTT layanan streaming seperti Netflix, Viu, dan Disney+. Referensi tontonan pun mulai merambah ke drama korea.

Sebenarnya kalau kenal drama korea sih sudah sejak serial Full House tayang di salah satu TV swasta belasan tahun lalu. Tapi saat itu saya tidak tertarik mengikuti. Cuma sesekali nonton saja. Saya juga malas untuk mencoba nonton drama korea karena jumlah episode dan durasi per episode-nya yang lama, tidak seperti drama Jepang yang lebih pendek. Sampai akhirnya bulan ramadhan lalu, saya yang biasanya sahur ditemani istri, jadi sahur sendirian karena istri sedang berhalangan. Bingung sambil makan hidangan sahur mau ngapain, saya memutuskan untuk mencoba nonton drama korea yang sedang hits beberapa bulan lalu, yaitu The World of The Married. Lha, ternyata kok bagus. Lanjutlah ngikutin sampai episode terakhir. Barulah setelah itu jadi nonton drama-drama Korea yang lain. Dan ya, saya akui ternyata drama korea banyak yang bagus.

Dulu saat masih kecil, saya pernah punya keinginan memiliki home theatre di rumah yang bisa saya pakai nonton film sepuasnya. Keinginan saya nanti saat pensiun adalah punya home teather yang bagus untuk menemani masa tua saya nonton film sepuasnya. Namun saat ini, walaupun bukan home theatre yang mumpuni, tetapi dengan adanya smart TV berlayar cukup lebar, layanan OTT streaming, dan waktu yang senggang selama pandemi ini, kini saya sudah bisa nonton film secara mudah dan legal sepuasnya. Nonton film bagi saya adalah salah satu solusi jitu penghilang stres selama pandemi. Kalau teman-teman bagaimana?