It’s Been 4 Years and Still Counting


dsc01088

Dear Istriku,

Aku tulis ini setelah aku baca-baca ulang tulisan di blog ini yang aku tulis saat awal-awal kita menikah 4 tahun silam. Maaf ya sekarang sudah tak pernah menulis khusus untukmu. Tapi itu bukan berarti aku tak suka menulis lagi. Itu artinya aku terlalu menikmati kebersamaan kita sehari-hari. Jadi tak ada waktu untuk menulis surat cinta. 

Aku masih ingat saat kita berdiri di atas Benteng Bukit Kursi pada suatu hari di bulan Desember 2012 itu. Sesaat setelah kamu mengiyakan untuk menemani di sisa hidupku, aku bertanya kepadamu, “aku ini abdi negara yang akan sering dimutasi yang mungkin akan sering jauh dari rumah. Kamu mau menemaniku kan?”.

Saat itu aku sangat yakin kamu akan bersedia. Sangat yakin karena aku tahu kamu bahkan lebih dahulu daripada aku, di usiamu yang belia, sudah berani menjemput rejeki di Pulau Bintan yang jauh dari kampung halaman. Aku rasa jauh dari kampung halaman bukan masalah buatmu. Dan benar saja, kau pun tersenyum dan menjawab, “tentu saja aku mau”. Ah, sampai kapanpun itu adalah salah satu hari terindah buat aku.

Proses kita kemudian menikah pun cukup cepat. 3 bulan setelah peristiwa di Benteng Bukit Kursi itu aku mengajak bapak ibukku untuk ke rumahmu, bertemu orang tuamu, untuk merencanakan pernikahan kita. 

Kemudian masih jelas pula di ingatanku pada suatu pagi tepat 4 tahun lalu. Seolah aku menggenggam es, tanganku terasa dingin. Keringat membasahi dahi yang untungnya tidak melunturkan make-up tipis di wajahku. Doa yang pernah diucapkan Nabi Musa  AS kepada Allah:

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Tak hentinya aku ucapkan dalam hati. Ya Allah lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku. Lepaskanlah kekakuan dari lidahku. Supaya mereka mengerti perkataanku. Saat tiba waktunya, hatiku berubah tenang. Yakin. Dan Alhamdulillah ijab qabul pernikahan kita pagi itu berjalan sangat lancar. Seketika hatiku terasa lega dan damai. Mengingat hari itu sekarang rasanya masih suka senyum-senyum sendiri.

Dan kalau diingat-ingat selama mempersiapkan pernikahan itu kita hanya bertemu beberapa kali saja. Hampir semua persiapan kita komunikasikan jarak jauh. Aku di Banda Aceh, kamu di Bintan, sedangkan lokasi nikah kita di Pati. 

“Kehidupan setelah menikah adalah belajar. Belajar apa saja. Dan bagian paling awal pembelajaran adalah untuk saling mengenal, memahami, toleransi, dan belajar kehidupan”, aku pernah menuliskan hal itu dalam Sebuah Catatan Usai Berbulan Madu. Dan sekarang 4 tahun berlalu, rupanya kita masih tetap belajar. Bukan, bukan tetap. Tetapi SELALU. Ya, selalu belajar. Belajar seumur hidup. Yang penting kita nikmati proses belajarnya. Karena ternyata belajar pun jadi sangat menyenangkan jika dilakoni bersama.

Sekarang mungkin bisa aku katakan kalau kita sedang belajar jadi orang tua yang baik. Dan rupanya itu gampang-gampang susah. Padahal sudah banyak buku dan artikel parenting yang kita baca. Tapi terkadang praktek menata emosi dan kesabaran dalam dunia parenting tidak selalu mudah. 

Dear Istriku,

Masih ingatkah awal menikah kita pernah berkomitmen untuk menjalani long distance marriage? Saat itu salah satu alasan kita adalah banyak teman-teman kita yang menjalani hal itu dan mereka baik-baik saja. Tapi rupanya kita tidak cocok untuk melakoni cinta jarak jauh. Kita pernah kehilangan bayi kita yang saat itu masih berusia 12 minggu di kandunganmu. Rasanya sangat menyiksa saat itu aku tak bisa mendampingimu menghadapi kehilangan itu. Sejak itu kita bertekad apapun yang terjadi, kita harus selalu bersama-sama. 

Kemudian kaupun rela lepaskan pekerjaan yang aku tahu sangat kau cintai dan memulai hari-hari menjadi ibu rumah tangga. Full-time ibu rumah tangga, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Suatu hal yang luar biasa menurutku. Pekerjaan mulia yang bisa jadi adalah pekerjaan paling capek sedunia karena tidak ada hari liburnya. Rutinitasmu yang dulunya berkutat di dunia laboratorium hewan berubah drastis dengan mengurusi segala keperluanku.

Sekarang, hampir setiap hari, pukul 03.00 pagi kamu sudah bangun untuk masak bekal sarapan dan makan siangku. Setelah aku berangkat kerja, kesibukanmu beralih mengurusi Bara, anak kita yang sedang sangat aktif menjelajah dunianya. Polah tingkahnya yang tak selalu lucu dan terkadang terasa menyebalkan tentu sangat menguji kesabaranmu. 

Dear Istriku,

Aku masih ingat, suatu ketika di hari yang bercuaca cerah saat kita berboncengan motor, kau pernah berkata ingin kembali bekerja dan ikut membantu keuangan keluarga. Saat itu aku hanya menjawab, “selama ini pun kamu sudah sangat membantu perekonomian keluarga kok. Masak enak tiap hari itu membuat kita menjadi lebih hemat karena tidak perlu sering jajan”. “Percaya apa enggak, aku bisa lebih hemat saat sudah menikah denganmu dibanding saat aku masih sendiri”, lanjutku berseloroh. Dan itu memang benar.

Mungkin perlu aku garis bawahi ya kata “masak enak“. Iya, menurutku masak itu ya harus enak. Karena kalau tidak enak bisa bikin lebih boros lagi. Kan jadi pengen jajan lagi. Jajan makanan yang enak. Dan gara-gara masakanmu, standar enak buatku pun jadi meningkat. Sudah banyak warung atau restoran yang aku cap overprice karenanya. Hahaha.. 

Kalau kata Dilan, “Mengapa istri harus bisa masak? Padahal itu rumah tangga, bukan rumah makan?”, well mungkin Dilan yang masih remaja saat bilang begitu belum tahu rasanya punya istri yang bisa masak. Karena hampir tiap hari dimasakin makanan enak olehmulah makanya aku jadi sehat, membulat, dan yang lebih hebat lagi bisa jadi hemat. 

Dan, saking semangatnya ingin membantu keuangan keluarga, akhir-akhir ini kamu jadi rutin membuat jus pesanan teman-temanku. Setiap hari sekitar 10 botol jus aku bawa di dalam ranselku untuk kubawa ke kantor. Sebenarnya sih banyak teman yang lain juga yang pesan jus. Tapi keadaan kita belum memungkinkan melayani partai besar. Terutama aku sih yang pasti kesulitan sekali berdesakan naik KRL kalau sambil membawa botol-botol jus yang banyak. 

Dear istriku,

Rupanya setengah windu sudah kita hidup bersama. Alhamdulillah aku bahagia bersamamu. Tak ada kata selain terima kasih yang bisa aku sampaikan kepadamu. Terima kasih sudah mencintai dan menyayangiku. Terima kasih juga sudah mencintai dan menyayangi Bara. Terima kasih sudah mau mengabdi padaku dan mengesampingkan egomu. Terima kasih sudah menemaniku saat Allah memberi kita jalan terjal ataupun saat semuanya serba mudah. Semua masalah dan tantangan yang ada terasa ringan kulalui bersamamu. Semoga apa yang telah, sedang, dan akan kita lalui bersama semakin menguatkan keluarga kita. Dan terima kasih untuk semua makanan untukku yang kau masak dengan penuh cinta. Itu semua sangat berarti bagiku. 

Nicholas Sparks, dalam buku At First Sight pernah menulis, “marriage is about becoming a team. You’re going to spend the rest of your life learning about each other, and every now and then, things blow up. But the beauty of marriage is that if you picked the right person and you both love each other, you’ll always figure out a way to get through it”. And for me, you are that right person. Always have and always will.

Semoga kita bisa menjalani kebersamaan ini sampai nanti kekal di kehidupan selanjutnya.

Aamiin..

Yes, It’s been 4 years, and still counting..