Lebih Dekat dengan Satwa di Rahmat Gallery


“Tiket untuk dewasa Rp. 25.000,-, kalau mau nambah Night Safari jadi Rp. 32.000,-“, kakak penjual tiket menjelaskan kepada saya. “Kalau memotret di dalam tidak boleh pakai blitz dan tidak boleh menyentuh koleksi museum”, jawab kakak itu ketika saya bertanya boleh mengambil foto atau tidak di dalam museum. Saya pun mengangguk dan mengeluarkan dompet untuk membeli 1 tiket dewasa plus Night Safari. Di depan pintu, saya disambut oleh petugas lain dengan senyum manis sambil menyapa, “Selamat datang di Rahmat Gallery”.

Rahmat Gallery tampak depan

Matahari baru beranjak sepenggalah. Jalanan kota Medan pagi itu tampak lengang. Mungkin karena hari itu hari libur nasional, masyarakat Medan banyak yang berlibur ke luar kota. Karena hari itu saya ada free time seharian di Medan, saya memutuskan untuk pergi ke Rahmat Gallery sebelum matahari terik. Dengan menaiki becak motor milik seorang bapak paruh baya yang ketika saya hampiri sedang mencuci kendaraannya, saya menuju ke museum yang terletak di Jl. S. Parman No. 309, Medan, ini. Dan sekarang, di sinilah saya, memasuki pintu utama museum yang bernama lengkap “Rahmat” International Wildlife Museum & Gallery.

Saya adalah pengunjung pertama pagi itu. Saya memang sengaja berkunjung bertepatan jam buka museum ini, yaitu pukul 09.00, dengan harapan museum masih sepi. Memasuki ruangan-ruangan ber-AC yang berhawa cukup dingin ini membuat mata saya haus untuk membaca semua koleksi artikel-artikel tentang konservasi alam dan perburuan yang digantung rapi di dinding. Otak saya pun lapar dan ingin melahap semua informasi tentang hasil awetan satwa-satwa serupa nyata yang dipajang dalam berbagai bentuk diorama yang dramatis. Melihat ribuan satwa dari seluruh penjuru dunia berkumpul dalam museum ini, bagaimana saya tidak merasakan excitement yang bergejolak?

Ya, Rahmat Gallery menurut saya adalah museum yang istimewa. Didirikan oleh seorang pemburu profesional dan seorang pecinta alam, Rahmat Shah, di tahun 1999, sampai sekarang museum ini memiliki koleksi kurang lebih 1000 species satwa dengan jumlah kurang lebih 3000 satwa yang diawetkan yang berasal dari berbagai negara. Koleksi ini mayoritas didapatkan oleh Rahmat Shah dari perburuan legal dengan konsep “Konservasi dengan Pemanfaatan” yang telah dilakukan bertahun-tahun di berbagai belahan dunia. Selain itu, koleksi di museum ini juga didapat dari pemberian dan sumbangan dari berbagai kalangan, satwa yang mati di kebun binatang atau taman satwa, dan beberapa pembelian secara legal.

Tatapan marah Harimau Sumatera

Tatapan marah Harimau Sumatera

Cats of The World

Cats of The World

Saya sengaja tidak mau cepat-cepat menyelesaikan kunjungan saya di museum ini. Dengan latar suara rekaman riuh satwa-satwa dan ruangan-ruangan yang dipenuhi dengan diorama berisi awetan satwa di setiap ruangan yang saya kunjungi membuat semakin betah menjelajah. Saya berhenti cukup lama untuk mengamati beberapa spesies beruang dari Beruang Grizzly (Ursus arctos horribili) sampai Beruang Kutub (Ursus maritimus) di ruangan bernama Bear Room. Sesekali saya juga mengambil foto close-up satwa eksotis yang terancam punah seperti Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) di ruang Cats of The World. Tak lupa mengintip lebih dekat ruang African Big Five yang berisi 5 satwa yang paling susah untuk diburu dan keberadaannya pun hampir punah di Afrika, yaitu Singa (Phantera leo), Gajah Afrika (Loxodonta africana), Banteng (Syncerus caffer), Macan Tutul (Phantera pardus), dan Badak Putih (Ceratotherium simum). Beberapa ruangan lainnya adalah Kingdom of Birds yang berisi koleksi berbagai jenis burung, Pheasant of The World yang menyuguhkan keanekaragaman ayam, Varieties Bird of Paradise yang penuh dengan koleksi burung cendrawasih, serta Dry Aquarium yang menyajikan berbagai jenis satwa air.

Serangga penghuni museum

Serangga penghuni museum

Bukan hanya satwa-satwa besar yang menjadi koleksi museum ini. Bahkan satwa-satwa yang berukuran mungil dan mini pun dipamerkan di sini. Dari kelompok burung, dan kelompok serangga seperti kupu-kupu, kumbang, sampai nyamuk pun semakin melengkapi koleksi museum ini. Ruangan yang wajib dikunjungi adalah Night Safari. Suasana ruangan yang gelap dan dingin cukup membuat perasaan was-was begitu memasuki ruangan. Saya menajamkan pendengaran. Suara-suara satwa buas seperti ular, harimau, dan predator-predator lain menambah tegang suasana. Dengan tatanan lampu yang apik, ruang yang semula gelap menjadi terang seiring dengan laju jalan saya. Nampak di kanan kiri satwa-satwa buas seperti muncul tiba-tiba dari kegelapan. Dan begitu melangkah ke depan, lampu yang sudah terlewati mendadak padam memberikan efek satwa buas yang secara misterius menghilang. Namun sayang, ruangan ini tidaklah luas. Apabila melangkahkan kaki dengan cepat, dalam waktu kurang dari lima menit sudah selesai menikmatinya. Setelah selesai menjelajah lantai satu, saya menaiki tangga menuju lantai 2 ditemani pemandangan diorama The Mountain Sheep di sebelah kiri dan jerapah di sebelah kanan. Penempatan jerapah di samping tangga ini brilian sekali menurut saya. Sambil berjalan ke atas, saya bisa mengamati anatomi jerapah dari jarak dekat.

Koleksi buku di perpustakaan museum

Koleksi buku di perpustakaan museum

Di lantai dua, diutamakan sebagai ruang perpustakaan dan ruang penyimpanan ratusan piala, penghargaan, dan piagam hasil dari prestasi sang pemilik museum selama bertahun-tahun. Saya sangat tertarik dengan buku-buku koleksi perpustakaannya. Buku-buku yang kebanyakan berbahasa Inggris tentang satwa dan alam tertata rapi di dalam sebuah lemari besar. Sayang, lemarinya dikunci. Jadi saya hanya bisa membaca artikel-artikel yang dibingkai di dinding. Selain itu, di sini juga terdapat koleksi jersey asli para pemain sepakbola dunia seperti Christiano Ronaldo dan Zinedine Zidane. Ada pula koleksi potongan 35mm film cell dari film-film terkenal Hollywood seperti Harry Potter, Twilight, dan Shrek. Sepertinya selain berburu, Pak Rahmat juga memiliki hobi memorabilia.

Night Safari

Night Safari

Sepanjang saya menjelajah museum ini ada satu pertanyaan yang mengusik pikiran saya. Bagaimana mungkin perburuan (walaupun legal) seperti ini berperan dalam pelestarian satwa-satwa langka? Bukankah perburuan ini adalah bentuk perampasan hak makhluk hidup? Terutama bagi satwa-satwa terancam punah? Tidak lama saya menemukan jawabannya dari beberapa artikel yang tergantung di dinding museum. Perburuan legal internasional di bawah Safari Club International ternyata memiliki aturan yang sangat ketat. Berdasarkan sebuah artikel wawancara dengan Pak Rahmat, beliau menjelaskan, “Biasanya saya berburu di Luar Negeri saat ada pemberitahuan dari Safari Club International. Jadi, bukan setiap saat bisa berburu. Dan harus di sesuaikan dengan musim perburuan di daerah tertentu yang spesies satwanya sedang over populasi.Ada kriteria lagi tak boleh berburu malam hari, tak menembak dengan sesuka hati, kalau menyalahi prosedur bisa dikenai sanksi penjara atau dikeluarkan dari Safari Club Member Indonesia lho”. Bahkan di artikel lain disebutkan bahwa satwa dilindungi pun apabila sudah overpopulasi, harus dikontrol dengan cara diburu. Seperti di Amerika Serikat, untuk mengontrol populasi beruang dilakukan perburuan pada waktu tertentu. Bagi yang pernah menonton film animasi Open Season yang dibintangi oleh Martin Lawrence dan Ashton Kutcher pasti tahu tentang hal ini.

Satwa burung yang diawetkan

Satwa burung yang diawetkan

Dan mengutip juga dari artikel wawancara dengan Pak Rahmat, mengenai pengawetan satwa, beliau menjelaskan, “Hewan-hewan yang boleh diburu itu sudah ditentukan izin serta quota yang diperbolehkan untuk diburu sehingga itu bisa menjadi koleksi yang boleh dibawa Seorang pemburu sejati adalah seorang konservasionis dan penyayang binatang karena tak menembak dengan sesuka hati, menembak harus tepat pada titik bunuh (killing point) dan senjatanya tak boleh under power, hingga tak menyiksa satwa dan hanya boleh menembak satwa jantan yang sudah tua. Sang pemburu hanya boleh mengambil kulit dan taring atau tanduk satwa buruannya. Daging hewan ditinggalkan untuk hewan pemangsa lainnya sehingga tak memangsa satwa muda yang masih produktif. Proses dari menembak hingga jadi trophy membutuhkan waktu 3-5 tahun. Dengan biaya sekitar $4000 -$5000″.

Tak terasa, sudah hampir 2 jam kunjungan saya di museum ini. Museum yang tadinya lengang pun sudah penuh dengan pengunjung lain. Beberapa turis lokal bersantai mengelilingi museum bersama anak-anak mereka. Celotehan ekspresif anak-anak yang kagum dengan sajian khas Rahmat Gallery membuat saya tersenyum. Tampak pula rombongan turis dari Prancis sibuk dengan kamera mereka masing-masing. Sepertinya saya masih enggan untuk beranjak dari sini. Namun sebuah janji dengan seorang kawan membuat saya melangkahkan kaki menjauh dari museum ini. Benar-benar luar biasa. Kunjungan ke Rahmat Gallery ini memberikan banyak pelajaran kepada saya.

Bagi kawan-kawan yang mau berkunjung ke Rahmat Gallery, sila buka website resminya di http://www.rahmatgallery.com/ untuk tahu lebih lanjut. Pendapat saya pribadi, apabila berkunjung ke kota Medan, salah satu tempat yang wajib dikunjungi adalah Rahmat Gallery. Kenali alam, edukasi diri sendiri, dan rasakan kedekatan dengan satwa di gallery satwa liar terbesar di Asia ini.

Ternyata tengkorak gajah dan badak sama besar ya..

Ternyata tengkorak gajah dan badak sama besar ya..

Papan berisi pesan untuk melestarikan alam

Papan berisi pesan untuk melestarikan alam

Iklan