Pameran Tenun Tradisional Nusantara


Apa perasaan kawan-kawan kalau tahu hasil kebudayaan negeri kita tercinta ini diakui oleh negeri lain? Sering kita mendengar, membaca, dan melihat beberapa hasil kebudayaan kita diklaim, diakui, atau sekedar dipertontonkan sebagai bagian dari kebudayaan milik negara lain. Pasti sebagian besar kawan-kawan merasakan marah dan emosi. Tapi, bukan marah dan emosi yang saya rasakan. Tetapi malu. Malu, kenapa negara lain yang nampak lebih menghargai kebudayaan itu dibandingkan kita sendiri. Malu, kenapa kita tidak lebih berusaha untuk ikut melestarikan kebudayaan itu. Dan malu, alih-alih ikut memajukan kebudayaan, kita malah mengungkapkan kemarahan di berbagai jejaring sosial dengan cara yang kasar. Bagi saya, bentuk paling kecil dari penghargaan terhadap hasil kebudayaan adalah apresiasi. Dan ketika tahu tentang Pameran Tenun Tradisional Nusantara yang diadakan oleh Museum Aceh, saya pun bersemangat berkunjung ke sana dengan tujuan mengapresiasi kebudayaan milik sendiri.

Pameran Tenun Tradisional Nusantara

Minggu siang (15/7), saya menyempatkan waktu berkunjung ke Museum Aceh setelah membaca dari jejaring sosial bahwa ada Pameran Tenun Tradisional Nusantara. Seperti biasa yang saya lihat hampir setiap hari, di kompleks Museum Aceh ini terlihat lengang. Hanya ada beberapa kendaraan yang parkir yang saya rasa pun kebanyakan milik pekerja di Museum. Memasuki pintu gerbang Museum, saya langsung menuju gedung di sebelah kanan Rumoh Aceh. Gedung yang biasanya ditutup itu hari ini dibuka untuk umum. Di gedung itu lah dilaksanakan Pameran Tenun Tradisional Nusantara.

Tangkulok dan Ija Sawak

Hanya ada saya dan seorang kawan yang berkunjung. Setelah mengisi tamu, kami pun masuk ke ruang pameran. Berbekal buku panduan yang diberikan dengan gratis di pintu masuk, saya pun bisa menikmati dan mengamati koleksi hasil tenun yang dipamerkan dengan cukup khusyuk. Koleksi yang dipajang adalah koleksi milik Museum Aceh dan beberapa koleksi pribadi. Bukan hanya hasil tenun dari Aceh yang dipamerkan, namun juga dari berbagai daerah di Nusantara. Antara lain Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, bahkan koleksi dari Nusa Tenggara dan Kalimantan pun dipamerkan di sini. Kebanyakan dari hasil tenun ini dibuat dengan menggunakan benang sutra. Selain sutra, bahan lainnya adalah katun, benang kapas, dan benang emas. Entah benang yang memang terbuat dari emas atau benang yang berwarna emas saya tidak tahu.

Kain khas dari Aceh sendiri yang dipamerkan di sini adalah kain tangkulok, Ija Sawak, ketawak, dan kain sarung. Tangkulok adalah kain yang dipakai untuk penutup kepala atau dililitkan di kupiah makutup sebagai pelengkap pakaian adat pria Aceh. Biasanya tangkulok memiliki motif lampu gantung, iris wajik, bunga, dan pucok rebung. Untuk pakaian adat wanita Aceh, Ija Sawak lah yang dipakai. Ija Sawak ini adalah sehelai selendang yang memiliki motif mirip dengan tangkulok. Cara pemakaian Ija Sawak ini dililitkan di badan dan  juga sebagai penutup kepala wanita Aceh. Lain Aceh lain lagi Gayo. Ketawak adalah kain tenun hasil kebudayaan suku Gayo berupa sehelai kain yang di bagian ujung terdapat rumbai-rumbai. Biasanya bermotif garis-garis dan pucuk rebung. Ketawak digunakan sebagai ikat pinggang dalam pakaian adat masyarakat Gayo. Dan untuk kain sarung yang dipamerkan di sini banyak sekali macam dan asalnya. Ada yang dari Aceh Besar, Aceh Pidie, Aceh Tengah dan Aceh Tenggara.

Sutra, bahan baku pembuatan kain tenun

Ruang Pameran

Melihat koleksi kain tenun ini membuat saya kepengen memilikinya juga, terutama kain-kain khas Aceh. Penasaran dimana saya bisa beli kain-kain seperti ini, saya pun bertanya kepada penjaga pameran. “Kain hasil tenun bisa dibeli di toko-toko souvenir khas Aceh yang tersebar di sekitar Masjid Raya Baiturrahman. Ada juga sih sentra pembuatan kain tenun yang sepanjang pengetahuan saya adalah satu-satunya di Banda Aceh berada di daerah Darussalam, tapi kain yang di sana harganya mahal, sampai jutaan rupiah”. Wah, saya jadi kepengen juga nih kapan-kapan berkunjung ke sentra pembuatan kain tenun Aceh. Apalagi kabarnya penenun Aceh sudah semakin langka sekarang.

Saya cukup puas berkunjung ke pameran ini. Langkah yang bagus dari Dinas Pariwisata dan Museum Aceh untuk lebih mengenalkan kebudayaan Aceh serta menyambut program Visit Aceh 2013. Namun sayangnya, sepertinya generasi muda kita masih kurang peduli, terlihat dari sepinya pengunjung. Ayolah kawan, kalau bukan kita yang ikut melestarikan budaya, siapa lagi coba? Rela kalau yang melestarikan dan memiliki budaya kita malah orang-orang dari negeri seberang? Bagi yang ingin berkunjung ke Pameran Tenun Tradisional Nusantara, masih ada waktu lho sampai 17 Juli 2012.

Kain tenun dari Sumatera Utara

Kain Tenun dari Flores

Kain Sarung Aceh Gayo

Iklan