Sejenak (menjadi) Anak-anak


20110424-IMGP3035

Pernahkah kawan bermain hujan-hujanan sewaktu kecil? Bagaimana rasanya? Hari ini, saya kembali ke masa kecil itu.

Sore tadi, ketika sedang menunaikan suatu urusan di sebuah warung kopi terkemuka di kawasan Ulee Lheue, mendung yang semula menggelayut tebal menjelma menjadi hujan deras. Sejenak teringat, sewaktu kecil, saya suka bermain hujan-hujanan. Bersama teman sebaya, berlarian, berkejaran, (terkadang) sambil telanjang, dan tanpa alas kaki, saya memasrahkan tubuh mungil saya dibelai oleh rintik hujan. Saat-saat paling membahagiakan waktu itu. Tapi bermain hujan hanya terjadi ketika saya berada di rumah pengasuh saya. Kalau di rumah, sangat jarang diperbolehkan orang tua untuk bermain hujan-hujanan. Terkadang, kala hujan, saya menyesal berada di rumah. Mending berada di rumah pengasuh, sudah pasti diberikan ijin untuk main hujan.

Hujan semakin lebat dan tunai sudah urusan saya. Mendadak saya ingin merasakan kebahagiaan sederhana bermain hujan ketika kecil. Saya memang membawa jas hujan kemana-mana. Tapi sore tadi, saya enggan memakainya. Saya kendarai motor pelan-pelan menuju kos. Akibat derasnya hujan, baru sejenak berkendara sudah membuat tubuh saya basah kuyup. Bukannya semakin kencang saya melaju, saya mengendarai motor semakin pelan. Saya ingin meresapi tetes air hujan lebih lama. Helm yang terpasang di kepala, saya lepas. Bermain hujan tanpa basah di kepala, mana enak? pikir saya.

Sepanjang jalan melihat orang ngiyup, terbesit di kepala saya, betapa rugi orang-orang itu yang tidak menikmati sensasi kehujanan. Tapi mungkin banyak pertimbangan. Seperti saya, tidak setiap saat saya mau kehujanan. Biasanya saya tidak mau kehujanan ketika sedang ada agenda yang mengharuskan saya untuk tidak kehujanan. Misalnya, berangkat kerja. Tidak mungkin kan saya hujan-hujanan terus di tempat kerja basah-basahan?

Hujan, terkadang bukan untuk dikesali, bukan untuk dimangkeli, dan bukan untuk dibenci. Tetapi untuk dinikmati, diresapi, dan dirasai. Tidak perlu khawatir terkena flu, tak perlu pula cemas kedinginan. Terkadang kita harus merasakan kedinginan untuk bisa memaknai kehangatan.

Sore tadi, saya kembali menjadi anak-anak. Tak khawatir basah, dingin, dan flu. Yang ada hanya kebahagiaan sederhana bermain hujan. Walaupun tanpa berlarian, tanpa berkejaran, dan tanpa telanjang, saya sangat menikmati sore tadi. Rintik hujan membasahi tubuh yang akhirnya membuat menggigil kedinginan, mengakhiri sore saya dengan senyum. Namun, rasanya ada yang kurang. Sebuah pelukan dan secangkir teh manis panas tidak ada di sana menyambut saya. Semoga di waktu yang berbeda ada pelukan dan secangkir teh panas menghangatkan saya di sana 😀

Banda Aceh, 13 Januari 2013

Iklan