Beranjangsana ke Kuil Palani Andawer


Terhimpit oleh deretan pertokoan dan rumah penduduk di pinggir jalan Tengku Di Anjong, sebuah bangunan mungil —hanya selebar ruko satu pintu— berwarna-warni mencolok itu terlihat nyempil. Selain berwarna mencolok, bentuk arsitektur yang berbeda dengan bangunan-bangunan di sekitarnya membuat rasa penasaran  timbul. Di atas atapnya yang berundak, ornamen sepasang burung merak terpasang. Pintunya tertutup, tak tampak ada aktivitas di dalamnya. Bahkan sering saya lewat di depannya, selalu sunyi. Melihat penampakannya, semua pasti tahu kalau bangunan ini adalah tempat ibadah. Lambang swastika pun menghias di depan pagar. Tulisan “Kuil Palani Andawer” terpampang jelas di atas pintu. Ya, kuil ini adalah salah tempat ibadah umat Hindu di kota Banda Aceh.

20131215-IMG_7525

Kuil Palani Andawer tampak depan

Sudah lama sebenarnya saya ingin beranjangsana ke tempat ini. Namun jika sendirian, saya merasa kurang nyaman berkunjung ke tempat ibadah umat agama lain. Takut jikalau saya mengganggu prosesi peribadatan yang sedang dilakukan. Beruntung saya bergabung dengan teman-teman komunitas Gam Inong Blogger jalan-jalan bareng mengunjungi beberapa tempat bersejarah di sekitaran bantaran hilir Krueng Aceh akhir pekan lalu. Lebih beruntung lagi, salah satu dari kami, Bang Arie Yamani, sudah cukup akrab dengan sang Pandita penjaga kuil.

Sosoknya khas berperawakan orang Tamil. Rada Krisna namanya. Sebuah nama yang terdengar sangat Hindu. Terang saja, nama itu ternyata memiliki arti perpaduan feminin dan maskulin sosok Dewa dalam Hindu. Kami memanggilnya Bang Rada. Senyum merekah di wajahnya saat membukakan pintu kuil yang tadinya terkunci rapat. Sambil mengucap salam, kami bersalaman dengannya. Rasa penasaran saya makin menyeruak saat berada di ruangan utama kuil. Kisah tentang Hindu di bumi Serambi Mekah pun mengalir dari tutur kata Bang Rada.

Walaupun jejak agama Hindu sudah ada di Aceh sejak jaman Kerajaan Lamuri, namun kuil ini bukan sejak dulu berdiri. Pada tahun 1934 kuil yang bernama lengkap Maha Kumbha Abhisegam Palani Andawer ini berdiri. Namun akibat gempa dan tsunami tahun 2004 lalu yang membuat kuil ini hancur lebur. Baru pada April 2012 lalu, setelah direnovasi, kuil ini diresmikan dan disucikan kembali sebagai tempat ibadah. Pada sisi kanan dan kiri dinding kuil terpasang ornamen arca relief kisah hidup Dewa Murugan, Dewa yang mereka sembah di kuil ini. “Dewa yang kami sembah di sini sama dengan kuil Batu Cave di Malaysia”, Bang Radha menjelaskan. Pantas saja saya merasa tak asing dengan arca-arca di dalam kuil ini. Ternyata sosok Dewa Murugan sudah pernah saya lihat di Batu Caves beberapa waktu lalu. Dewa yang memiliki tunggangan seekor burung merak ini adalah dewa perang yang dipercaya sebagai pelindung orang Tamil. Selain arca Dewa Murugan di altar utama, arca Dewa Ganesha yang dikenal sebagai dewa pengetahuan dan merupakan kakak dari Dewa Murugan juga tampak berada di samping altar utama.

“Saya baru sekitar 3 tahun menjadi pandita di kuil ini. Sejak saat itu saya menjadi vegetarian. Setiap hari saya membersihkan kuil dan pada waktu-waktu khusus saya pun memandikan arca Dewa Murugan dengan air khusus”, Bang Rada kembali bercerita. Mendengar bahwa Bang Rada adalah vegetarian, beberapa di antara kami berdecak kagum. “Ya awalnya susah juga jadi vegetarian. Tergoda dengan ikan dan daging. Tapi lama-lama biasa dan enak juga makan sama sayur, tahu, dan tempe”, lanjutnya bertutur. Berdasarkan kepercayaan umat Hindu, Dewa Murugan juga dikenal sebagai Dewa Pembersih yang tidak menyukai bau amis. Oleh karena itulah, sebagai pemimpin umat di kuil, Bang Rada harus menjauhi masakan yang bersifat hewani.

20131215-IMG_7527

Bagian dalam kuil

Dari cerita Bang Rada jugalah saya baru tahu kalau di kota Banda Aceh ternyata ada perayaan Thaipusam. Walaupun tidak semeriah di Batu Caves, Malaysia, atau di negara asalnya India sana, perayaan Thaipusam di Banda Aceh cukup semarak. Upacara penghormatan terhadap Dewa Murugan dan sarana permohonan ampun atas dosa ini pertama kali dilakukan di Aceh pada awal April lalu. Kabarnya, penduduk sekitar juga ikut antusias menyaksikan prosesi perayaan ini. Bahkan, Bapak Walikota Banda Aceh, Mawardi Nurdin, pun ikut hadir dalam perayaan ini. Sayang saya tidak ikut menyaksikan perayaan Thaipusam April lalu. “Untuk tahun depan, sepertinya perayaan akan diadakan pada akhir bulan April. Dilaksanakan bertepatan dengan HUT Kota Banda Aceh. Kalau dapat dukungan dari Pemkot, bisa kami buat festival yang lebih meriah”, Bang Rada lanjut berkisah.

Cukup lama kami khusyuk mendengar Bang Rada bertutur. Kisah-kisah yang mengalir dari mulut Bang Rada adalah hal yang baru bagi saya. Apalagi selama bertahun-tahun hidup di kota yang setiap sudut dipenuhi dengan masjid, sebuah hal yang menyejukkan bagi saya mengetahui kisah golongan minoritas menjalankan ibadah dengan sangat nyaman. Walaupun hanya ada sekitar 600 orang penganut Hindu Tamil di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar, setiap harinya rata-rata ada 10-15 orang yang beribadah di kuil ini pada pukul 6 pagi dan 6 sore.

Saya paham bahwa menjadi minoritas terkadang bisa sangat berat dijalani. Walaupun sebagai muslim saya termasuk golongan mayoritas di Banda Aceh, namun sebagai orang Jawa, saya adalah minoritas di antara para penduduk asli Aceh. But, you know what.. Dengan bangga saya bilang bahwa kota Banda Aceh adalah kota yang sangat bersahabat bagi golongan minoritas. Tak mungkin bukan jika kota ini tidak bersahabat saya bisa sangat betah dan nyaman tinggal di sini selama lima tahun terakhir? Jika antara mayoritas dan minoritas bisa saling memahami dan bertoleransi, kehidupan nyaman pun bisa terwujud seperti di Banda Aceh. Saya pun teringat dengan kalimat dari Pandji dalam bukunya nasional.is.me, “Perbedaan bukan untuk disatukan, tapi dibiarkan untuk bersatu”. Saat menghadapi perbedaan, tak perlu untuk disatukan —dijadikan satu—. Cukup dengan menyadari bahwa perbedaan itu untuk dihargai. Pun begitu dengan perbedaan dalam kehidupan beragama.

1470062_10151937286547054_1674367045_n

Gam Inong Blogger berfoto bersama Bang Rada Krisna (tengah)
photo by Tommy Harvie

Iklan