Menjejak Melaka (Part 2)


Tidur tidur Guesthouse’s backdoor

Bermalas-malasan selama traveling adalah hal yang haram bagi saya. Maka, bangun pagi-pagi sekali adalah sesuatu yang wajib saya lakukan. Pun ketika saya di Melaka. Pagi pertama saya di Melaka, usai subuh, saya sudah bersiap-siap untuk mengeksekusi itinerary penjelajahan kota Melaka. Pukul 8 waktu setempat yang setara dengan pukul 7 waktu Banda Aceh saya dan kawan seperjalanan saya sudah keluar dari penginapan. Suasana pagi itu di Tidur Tidur Guesthouse benar-benar sunyi. Mungkin karena tidak banyak tamu yang menginap di sana juga sih. Hanya kami berdua yang pagi sekali sudah bangun. Kami pun keluar melalui pintu belakang yang berhadapan langsung dengan sungai Melaka.

Masih tetap berbekal peta pinjaman dari Stanley, kami menuju Sam Po Kong Temple dan Hang Li Poh’s well. Alasan menuju ke sana adalah mumpung masih pagi dan cuaca masih adem, kayaknya kalau berjalan kaki agak jauh masih semangat. Ya, Sam Po Kong Temple dan Hang Li Poh’s well ini memang letaknya cukup jauh dengan heritage site yang kebanyakan berkumpul di sekitaran bangunan Stadhuys. Suasana kota Melaka ini mengingatkan saya pada kota Sabang. Ritme kotanya lambat dan santai banget. Jadi betah berlama-lama menyusuri jalanan yang sepi.

Usai menapaki tepian sungai, kami memasuki Jalan Temenggong. Di perempatan jalan sebelum Jalan Temenggong, kami disambut sekumpulan burung dara yang sedang asyik bercengkerama dan mematuki biji-bijian yang tersebar di trotoar jalan yang lebar. Tidak seperti di Penang yang banyak burung gagak, di Melaka lebih banyak burung dara yang berkeliaran. Melihat burung-burung dara ini berkumpul ternyata membuat suasana hati saya cerah. It’s a good start in the morning. Lanjut berjalan kaki, kami memasuki kawasan Little India. Walaupun banyak toko yang masih tutup, beberapa toko yang menjual koran dan makanan sudah tampak memulai aktifitasnya. Sapaan ramah sekedar menawarkan dagangan dari warga keturunan India pun mewarnai pagi saya. Saya menjawab sapaan mereka dengan senyum lebar. Suasana menjadi agak ramai ketika kami melewati sebuah pasar tradisional. Kami pun menyempatkan diri untuk ikut masuk ke dalam pasar itu. Banyak sekali jajanan ringan yang dijual di sana. Namun pagi itu kami lebih memilih untuk melihat-lihat saja daripada mencicipi jajanan itu.

Mie yang enak sekali

Sam Po Kong Temple

Agak bingung membaca peta, akhirnya kami malah mendarat di sebuah restoran Mie yang karena saking lamanya kejadiannya sudah berlalu, jadi lupa nama mie dan restorannya. Yang pasti, mie nya enak banget. Apalagi daging sapinya.. Hmmm.. *mendadak ngiler*. Alasan kami mampir di sana sih karena restorannya ada label halalnya. Usai mengisi perut kami melanjutkan pencarian Sam Po Kong Temple dan Hang Li Poh’s well. Alhamdulillah nyarinya gak lama. Sebenarnya tujuan saya ke Sam Po Kong Temple ini adalah karena rasa penasaran saja ingin membandingkan dengan Sam Po Kong Temple yang ada di Semarang. Ternyata yang di Semarang jauh lebih besar dan keren. Agak sedikit kecewa, saya melipir ke Hang Li Poh’s well yang berada di samping kuil. Hang Li Poh’s well atau sering juga disebut The King’s well adalah sebuah sumur yang bagian atasnya sudah ditutup dengan terali besi. Dahulu sumur ini adalah sebuah persembahan khusus Sultan Mansyur Syah untuk keperluan sehari-hari istrinya, Hang Li Poh. Konon apabila ada orang yang meminum air dari sumur yang tidak pernah kering ini akan kembali ke Melaka. Pada masa pendudukan Portugis, sumur ini ditaburi racun oleh tentara Johor dan membuat orang Portugis terbunuh karena meminum airnya.

St Francis Xavier Church

Kembali ke Jalan Temenggong, kami berbelok kiri menuju Jalan Laksamana. Christ Church of St. Francis Xavier tampak gagah serupa kastil membuka jejeran bangunan-bangunan bersejarah. Usai melewati pertokoan bertembok merah bata, sampai lah kami di kawasan Stadhuys. Kawasan yang terdapat beberapa bangunan cantik seperti Red Clock Tower, Christ Church Melaka, dan Victoria Fountain ini memang menjadi pusat dari heritage site kota Melaka. Dari kawasan inilah idealnya penjelajahan heritage trail kota Melaka dilakukan. Bagi pecinta museum, pasti akan sangat suka berada di sini. Di sekitaran bangunan Stadhuys terdapat banyak sekali museum. Bahkan di Stadhuys sendiri terdapat Museum Sejarah dan Ethnografi, Museum Sastera, Museum Pemerintahan Demokrasi, Museum Yang Di-Pertua Negeri, dan Galeri Laksamana Cheng Ho. Saya sebenarnya suka dengan museum. Tapi kali ini saya lewatkan saja kunjungan ke museum-museum tersebut. Saya ingin berkeliling kota saja dulu.

Berikutnya, kami berjalan menaiki bukit untuk menuju ke St Paul Church. Bukan gereja sih sebenarnya. Lebih tepat kalau disebut sebagai reruntuhan gereja. Gereja yang dulunya chapel kecil buatan Portugis ini adalah salah satu spot favorit saya di Melaka. Letaknya yang di atas bukit sudah membuat saya mengagumi kegagahannya sejak menginjakkan kaki ke anak tangga pertama di bawah bukit. Apalagi di depan gereja tersebut terdapat sebuah patung St. Francis Xavier yang menambah keunikannya. Patung ini didirikan di sini untuk menghormati St. Francis Xavier, seorang misionaris asal Spanyol yang rutin berkunjung ke sini dari 1545-1522. Penamaan St Paul Church ini sendiri digagas oleh bangsa Belanda setelah merebut chapel kecil ini dari Portugis. St Paul Church ini digunakan oleh Belanda selama 112 tahun sampai kemudian mereka mempunyai gereja sendiri, yaitu Christ Church. Memasuki ruangan tanpa atap dalam gereja, suasana klasik yang indah menyeruak. Beberapa batu nisan dari misionaris-misionaris Portugis tertata rapi di sana.

St Paul Church

A Famosa

Melihat papan petunjuk di sekitar St Paul Church, kami mengikuti arah panah ke Dutch Graveyard dengan penuh rasa penasaran. Terletak di belakang bukit St. Paul Church berdiri, areal pemakaman Belanda ini ternyata tidak begitu besar. Selain orang Belanda, beberapa tentara Inggris juga dikuburkan di sini. Perjalanan kami berlanjut menyusuri jalan di samping kompleks kuburan ini. Melewati Melaka Sultanate Palace, kami langsung menuju A Famosa. Bangunan yang juga merupakan ikon kota Melaka ini adalah sebuah gerbang benteng Portugis yang masih tersisa. Sama seperti bangunan bersejarah lainnya yang berada di Melaka, gerbang yang disebut juga dengan nama Porta de Santiago ini pun mengalami perpindahan tangan dari Portugis, Belanda, kemudian ke Inggris seiring dengan pendudukan bangsa kolonial yang berbeda. Dengan melihat gerbang benteng yang cukup besar ini, saya membayangkan dulu pasti kota Melaka ini dikelilingi benteng yang kokoh.

ABC + Ais krim

Walaupun cuaca tidak menyengat, berjalan kaki dari pagi sampai siang ternyata membuat letih juga. Akhirnya kami menuju kembali ke kawasan Stadhuys. Tujuan utama kami adalah menikmati Ais Kacang dan Ais Batu Cendol (ABC) di hawker seberang jalan Stadhuys. Pada dasarnya saya tidak terlalu menyukai minuman cendol. Tapi, khusus ABC di Melaka adalah pengecualian. Entah karena campuran yang beda dengan minuman cendol di Indonesia, rasa ABC ini sangat segar. Rasa dahaga dan capek yang mendera setelah berkeliling kota lenyap sudah. Ditambah kudapan potato roll rasa BBQ, hmm.. kenyang deh. 

Matahari semakin tinggi, letih badan yang sempat singgah mulai memudar. Tak mau membuang waktu, kami melanjutkan penelusuran kota Melaka menuju Jonker Street. Salah satu jalan paling terkenal di Melaka ini menawarkan deretan pertokoan yang menjual souvenir. Untungnya saya bukan seorang yang hobi belanja. Jadi, walaupun cukup tergoda untuk membeli berbagai macam souvenir, saya tetap bisa menahan diri. Bagi yang hobi belanja, siapkan banyak uang ketika berkunjung ke Jonker Street ini. Banyak sekali souvenir unik yang layak dikoleksi.

Para turis ber-konvoi naik becak di Jonker Street

Cheng Hoon Teng Temple

Cukup puas menjelajah Jonker Street, kami melipir ke Masjid Kampung Kling untuk shalat Dzuhur jamak qashar dengan Ashar. Masjid yang berarsitektur Sumatra, China, dan Melayu ini terletak di Jalan Tukang Emas. Jalan ini terkenal dengan sebutan Jalan Harmoni. Pasalnya, selain Masjid Kampung Kling, berderet pula Cheng Hoon Teng Temple dan Sri Payyatha Viyanagar Moorthi Temple di jalan ini. Hal ini menunjukkan begitu indah dan rukunnya kehidupan beragama di Melaka. Yang unik dari masjid ini adalah tempat wudhunya yang berupa kolam lengkap dengan pancuran di tengahnya. Agak susah juga berwudhu dengan jongkok dan mengambil air pakai gayung dari kolamnya. Cukup lama kami ngadem di masjid ini.

Masjid Kampung Kling

Kolam wudhu Masjid Kampung Kling

Karena siang masih panjang dan kami sudah mulai bingung mau ngapain dan kawan saya juga sudah capek (padahal saya belum), akhirnya kami berencana kembali ke penginapan untuk tidur siang. Men-charge energi untuk mengeksekusi beberapa list dalam daftar itinerary sore hari dan malam nanti. Dan karena saya pun sudah capek nulis, kita lanjut di bagian selanjutnya ya cerita tentang trip Melaka saya kali ini.. See yaa..

…to be continued..
 
Buat yang ketinggalan, Part 1 bisa dibaca di sini

Welcome to Melaka

Iklan