Menjejak Melaka (Part 3)


Masih di hari kedua menjejakkan kaki di Melaka..

Masih ingat kalau saya dan kawan saya berencana kembali ke penginapan untuk istirahat siang setelah mengunjungi Masjid Kampung Kling di post sebelumnya? Sebelum sampai di penginapan saya membujuk kawan saya untuk pergi ke Menara Taming Sari. Alih-alih istirahat di penginapan, saya berpikiran lebih enak ngadem naik menara yang memiliki tinggi sekitar 80 meter sambil menikmati pemandangan kota Melaka dari atas. Dan terbujuklah kawan saya. Tetap dengan berjalan kaki, kami menuju Menara Taming Sari yang berada di Bandar Hilir, di samping Dataran Pahlawan Megamall. Karena dari pagi sampai siang kami hanya menyusuri jalan di kawasan heritage site, sedikit surprised juga melihat kawasan sekitar Menara Taming Sari ini. Ternyata di sini lah kawasan dengan bangunan-bangunan modern berada.

Replika kapal Flor De La Mar dari atas Menara Taming Sari

Dataran Pahlawan Megamall dari atas Menara Taming Sari

Menara Taming Sari ini adalah gyro tower pertama dan masih satu-satunya di malaysia. Setelah membeli tiket seharga 20 MYR kami memasuki sebuah ruangan bundar yang berporos pada tiang menara. Ruangan ini lah yang membawa kami naik ke atas menara. Ruangan ini bisa berputar 360° untuk mengakomodasi pengunjung agar bisa menikmati pemandangan panorama kota Melaka. Beberapa bangunan heritage seperti Stadhuys dan St. Paul Church terlihat cukup jelas dari atas menara. Selain itu, pemandangan Selat Melaka, Sungai Melaka, dan gedung-gedung tinggi juga terlihat menarik. Duduk di atas ruangan menara yang ber-AC sambil melihat pemandangan-pemandangan tersebut merupakan pengalaman baru bagi saya. Namun sayang, durasi di puncak menara hanya 7 menit. Walaupun ruangan bundar ini juga berhenti dan berputar di tengah tiang menara, namun tidak lebih dari 15 menit total kami menikmati atraksi Menara Taming Sari ini. Kalau dipikir, kurang sebanding durasi dengan harga tiketnya. Tapi, untuk sebuah pengalaman baru, saya rasa tidak terlalu mengecewakan saya. Niat ngadem di atas menara tetapi terkendala durasi, akhirnya kami benar-benar kembali ke penginapan untuk tidur siang. Cukup lah sekitar 1-2 jam untuk istirahat.

Replika Kincir Air di tepi sungai Melaka

Karena waktu di Melaka ini seperti WITA dan suasana sorenya mirip dengan Banda Aceh, maka sore di sini bisa dibilang cukup panjang. Sekitar pukul 17.30 waktu setempat kami keluar penginapan. Kali ini terbangun karena perut keroncongan. Menujulah kami ke warung makan ikan asam pedas seperti di hari pertama kami sampai di Melaka. Sambil menunggu senja kami menikmati sajian nikmat ikan asam pedas dan segelas es teh tarik. Kebetulan memang warung makan ini letaknya hanya selemparan batu dengan loket Melaka River Cruise Muara Jetty. Rencananya memang setelah makan kami akan menikmati Melaka River Cruise.

Menjelang terbenam matahari, kami membeli tiket Melaka River Cruise seharga 10 MYR. Pengennya sih bisa menikmati perubahan waktu sore menuju malam sambil river cruising, tetapi ternyata kami harus menunggu sekitar setengah jam baru bisa naik boat-nya. Mungkin sekalian menunggu ramai kali ya. Karena saya belum tau sebelumnya rute dan durasi Melaka River Cruise ini, maka saya nikmati saja lah kemana boat-nya akan membawa saya. Boat membawa kami menjauhi laut menuju ke arah hulu sungai. Karena saat itu hari sudah malam, pemandangan jembatan dan kedua sisi sungai tampak indah dengan lampu-lampu warna-warni. Namun sepertinya ada yang kurang. Selama berjalan, tidak ada keterangan atau guide yang menjelaskan tentang tempat-tempat yang dilewati.

Sesampai di tempat bertuliskan Melaka River Cruise, saya merasa bahwa ini lah tempat berakhirnya cruise ini. Dalam pikiran saya pun berkecamuk, “trus gimana baliknya dong? Masa iya mau jalan kaki sejauh ini?”. Belum habis rasa penasaran saya, ternyata tempat bernama Taman Rempah ini adalah tempat dimana boat memutar balik. Dan, perjalanan dari Taman Rempah menuju Muara Jetty inilah baru sebenar-benarnya Melaka River Cruise dimulai. Boat berjalan dengan lebih perlahan. Suara rekaman guide yang menjelaskan tentang tempat-tempat di sisi sungai mulai diputar. Barulah saya bisa benar-benar menikmati river cruise ini.

Melaka River Cruise

Sekitar abad 15, sungai Melaka ini memiliki arti penting untuk transportasi barang-barang perdagangan. Kejayaan kerajaan Melaka tidak bisa dipisahkan dari sejarah panjang sungai ini. Di masa modern, sungai Melaka ini tidak serta merta menjadi secantik sekarang. Ternyata sungai ini pernah kumuh, kotor, dan jorok. Namun karena keseriusan pemerintah dan masyarakat Melaka, sekarang para pelancong yang datang ke Melaka bisa ikut merasakan nostalgia sejarah sungai ini dalam paket wisata Melaka River Cruise. Hal yang bisa saya lihat dari keseriusan pemerintah dalam merawat dan mempercantik sungai ini adalah walaupun sudah banyak bangunan-bangunan modern yang berada di pinggir sungai, tetap ada deretan pepohonan mangrove di tepi sungai.

Satu tempat yang paling saya ingat dari penjelasan rekaman guide di Melaka River Cruise adalah Kampung Morten. Kampung Morten adalah perkampungan tradisional Melayu yang sampai sekarang masih eksis. Yang paling kentara tentu saja dari arsitektur perumahan yang bisa dibilang melayu banget. Masyarakat kampung ini pun masih mengamalkan cara hidup tradisional melayu. Oleh karena itu kampung ini disebut-sebut sebagai museum hidup. Kampung ini dinamakan Morten dari seorang JF Morten yang dulunya membangun kampung ini. Sebelum berdiri kampung ini, di sini adalah area rawa-rawa.

Kampung Morten

Tempat unik lainnya yang saya lewati selama ikut cruise ini adalah replika The Eye on Malaysia, yaitu sebuah ferris wheel atau kincir seperti bianglala di dufan. The Eye on Malaysia dulunya berada di Kuala Lumpur. Namun pada tahun 2008, kincir ini dipindahkan ke Melaka. Dan karena terjadi sengketa antara pemerintah Malaysia dengan pemiliknya, sebuah perusahaan Belgia, pada 2010 kincir ini berhenti beroperasi. Karena yang dipajang di pinggir sungai Melaka sekarang ini adalah replikanya, tentu saja bagi pelancong yang datang ke Melaka tetap bisa menjajal kincir ini. Namun terlihat tinggi replika ini tidak setinggi kincir aslinya yang mencapai 60 meter.

Replika Flor De La Mar

Selain dua tempat tersebut, keunikan jembatan-jembatan tua yang dilewati sepanjang cruise juga cukup memberikan nuansa kekunoan jaman dahulu. Beberapa jembatan tersebut adalah Tan Boon Seng Bridge, Chan Boon Cheng Bridge, Ghostbridge of Melaka, Old Market Bridge dan Jalan Hang Tuah Bridge. Jembatan-jembatan inilah saksi bisu kejayaan Melaka sampai dengan jatuh bangunnya Melaka dalam pendudukan para penjajah. Mendekati Muara Jetty, tampak pula replika kincir air dan benteng di pinggir sungai lengkap dengan meriam yang mengelilingi benteng. Dan, pas di sebelah Muara Jetty, terdapat replika kapal Portugis bernama Flor De La Mar.

Overall, saya sangat puas dengan river cruise selama kurang lebih 45 menit ini. Namun sayang, karena ingatan saya yang buruk, saya tidak bisa mengingat lebih banyak dan lebih detil tentang tempat-tempat lain yang dilewati oleh boat selama cruise. Alangkah lebih baik apabila selain mendapatkan tiket, pengunjung juga mendapatkan booklet atau leaflet berisi peta rute river cruise beserta keterangan singkat mengenai situs-situs yang dilewati.

Ah, Melaka memang istimewa. Mendadak saya merasakan waktu 3 hari 2 malam yang saya rencanakan untuk menjelajah Melaka masih sangat kurang. Masih ada beberapa tempat seperti Kampung Morten dan replika The Eye on Malaysia yang tidak sempat saya kunjungi. Walaupun masih ada 1 hari lagi, tetapi karena ada beberapa itinerary yang belum dieksekusi, sepertinya kali ini belum bisa mengunjungi tempat-tempat di atas.

Usai river cruising, malam terakhir di Melaka ini saya habiskan untuk membeli beberapa kaos di distro milik Stanley bernama mlackeny der yang berada 1 gedung dengan Tidur-tidur Guesthouse. Harga yang ditawarkan cukup murah. Apalagi kualitas kaosnya juga bagus. 1 kaos ukuran M/L dihargai 20 MYR. Untuk kaos anak-anak dan kaos dewasa ukuran XL malah hanya 15 MYR. Bahkan, karena kami cukup banyak berbelanja, dikasih diskon lagi. Benar-benar irit lho belanja kaos di mlackeny der dan menginap di Tidur-tidur Guesthouse. Coba tebak berapa menginap untuk 2 malam 2 orang di sini? Hanya 54 MYR!

Dan sebelum saya kembali ke peraduan, karena rasa penasaran, saya bertanya kepada Stanley mengenai logo distro miliknya kenapa gambar mouse deer alias kancil. Ternyata kancil adalah binatang yang dilihat oleh Parameswara ketika melakukan perburuan di hutan. Salah satu anjing pemburu milik Parameswara yang mencoba menangkap kancil mengalami kesialan dan tercebur ke sungai akibat tendangan dari si kancil. Terinspirasi oleh keberanian kancil, Parameswara memutuskan tempat ini sebagai pusat kerajaannya yang dinamakan Melaka, sesuai dengan nama pohon tempat dia beristirahat di hutan. Sejak saat itu, Parameswara yang adalah keturunan dari raja di kerajaan Sriwijaya, menjadi raja pertama Melaka.

Replika Eye on Malaysia tampak dari kejauhan

Berkunjung ke Melaka, banyak sekali cerita, pengalaman, dan pengetahuan baru yang saya dapat. Selain itu, ada tebersit rasa iri melihat kota, sungai, dan bangunan-bangunan tua yang sangat terawat dan indah. Iri karena di Indonesia banyak bangunan-bangunan bersejarah juga namun hanya sebagian kecil yang terawat. Iri karena kita mempunyai ribuan sungai dan tidak satu pun (setahu saya) yang menjual river cruise seperti di Melaka. Dan iri karena melihat kehidupan kota yang bersahaja tanpa macet dan nyaman untuk berjalan kaki. See ya next time Melaka..

Next, petualangan saya hari ketiga di Melaka bisa dibaca di sini

Iklan