Sampoiniet Trip Part 1: Jungle Trekking and Tubing


Suara hati semakin bertanya-tanya mau kemana di long weekend penghujung tahun ketika Desember mulai menua. Yang pasti saya tidak ada rencana untuk liburan jauh ke luar Aceh. Ada rencana ingin kembali camping di Pulau Breueh, ada pula rencana menghabiskan waktu untuk sightseeing di beberapa objek wisata di sekitar Banda Aceh dengan bersepeda atau bermotor ria. Liburan ke Sabang? Woo.. Terlalu mainstream dan pasti ramai sekali disana. Atau hanya di kos saja? Ah, sepertinya terlalu membosankan libur 4 hari hanya untuk bermalas-malasan di kos. Saya ingin sesuatu yang baru untuk mengisi long weekend terakhir di 2012 ini. Sesuatu yang adventurous.

Mahout memasang pelana di punggung Ida

Mahout memasang pelana di punggung Ida

Sampai suatu ketika saya sedang ngubek-ngubek wordpress dan menemukan link berikut ini. Wah, trip jungle trekking naik gajah? I have never done it before. Pasti seru tuh. Langsung saya hubungi Mas Tardi, pemilik Pelagisindo Tour & Travel yang menjual paket wisata jungle trekking naik gajah. Setelah mendapat penjelasan dari Mas Tardi lengkap dengan itinerary selama 2 hari 1 malam, langsung saya hubungi beberapa teman untuk ikut serta. Singkat cerita terkumpullah 7  orang teman termasuk saya yang berkenan ikut.

Awalnya kami berencana nge-trip di hari senin-selasa tanggal 31 Des – 1 Jan bertepatan dengan pergantian tahun dengan harapan mendapatkan pengalaman baru menghabiskan akhir tahun dan menyambut tahun baru bersama para gajah. Namun ternyata ada instruksi yang mewajibkan saya dan beberapa teman lain untuk masuk kerja di tanggal 31 Des yang mengakibatkan jadwal trip kami majukan menjadi 29-30 Des.

Sabtu (29/12) pagi kami berangkat menuju lokasi Conservation Response Unit (CRU) Sampoiniet di Kab. Aceh Jaya, yang menempuh jarak sekitar 3 jam dari Banda Aceh. Alhamdulillah hari itu cerah. Menjelang waktu dzuhur kami sampai di CRU Sampoiniet di Desa Ie Jeureuneh, Kec. Sampoiniet, Kab. Aceh Jaya. Lokasi CRU ini sendiri cukup tersembunyi dari jalan raya Banda Aceh – Meulaboh, sekitar 10 km masuk ke dalam perbukitan. Sepanjang perjalanan masuk lokasi sudah banyak terdapat perkebunan kakao dan beberapa tanaman sawit. Saya selalu merasa sedih setiap melihat kawasan yang seharusnya tetap menjadi hutan berubah menjadi perkebunan. Habitat asli untuk penghuni hutan pun semakin menciut 😦

Sekitar pukul 13.00 para mahout (pawang gajah) mulai menjemput para gajah yang akan kami naiki dari hutan. Ya, kalau siang, gajah-gajah yang ada di CRU ini memang dilepasliarkan di hutan. Mahout lain yang berada di markas CRU menyiapkan pelana yang nantinya akan dipasang di punggung gajah sebelum kami naiki. Tidak berapa lama 2 ekor gajah jantan dan 1 ekor betina sudah sampai di markas. Sebelum dipasangi pelana, ketiga ekor gajah itu dimandikan terlebih dahulu. Aziz, Winggo, dan Ida, adalah nama ketiga gajah itu.

Pelana sudah terpasang, dan kami terpaksa dibagi menjadi 2 tim karena gajah yang tersedia untuk trekking hanya 3, yang setiap gajah bisa mengangkut 1 mahout dan 2 pengunjung. Saya dan bang Fauzan memilih naik Aziz, gajah jantan yang memiliki badan paling besar. Hanung dan istrinya menaiki Ida, si gajah betina. Winggo, gajah jantan yang lain, tetap menunggu di camp menemani 3 teman lain, Andang, Wira, dan Riko, yang juga menunggu Ida untuk nanti kembali lagi menjemput mereka.

20121229-IMG_1457

Jungle trekking naik gajah, menyusuri sungai

“Sekarang kalian pilih, mau duduk di depan apa di belakang. Karena sensasi naik gajah di depan dan di belakang itu berbeda. Lebih seru di belakang”, Mas Tardi menjelaskan. Bang Fauzan memilih duduk di belakang, saya pun di depan. Aziz, gajah yang sudah 4 tahun berada di CRU ini mulai memasuki hutan dengan berjalan perlahan. Ini bukan pengalaman pertama saya naik gajah, tetapi naik gajah dengan menggunakan pelana jauh lebih nyaman dibandingkan tanpa pelana. Rasa bergeronjal di atas punggung tidak terlalu terasa dengan pelana.

Selain suara telapak kaki Aziz dan Winggo di belakang yang menjejak tanah dan bergesekan dengan tanah, yang terdengar adalah suara kami tertawa dan jejeritan merasakan sensasi baru jungle trekking naik gajah. Bahkan suara burung, serangga, dan binatang lain di kejauhan yang tadinya terdengar mulai kalah dengan suara kami. Hutan yang kami lewati masih cukup lebat. Kadang terlihat gerak-gerik yang mencurigakan di balik semak belukar. “Apa itu Bang? Anak gajah?”, saya bertanya ketika melihat beberapa sosok binatang cukup besar bersembunyi di pepohonan. “Itu sekawanan babi hutan. Kalau itu sekawanan gajah, Aziz akan lari lah. Dia bukan tipe gajah pemberani yang bisa mengusir kawanan gajah liar”, abang mahout menjelaskan.

Perjalanan menjadi menegangkan ketika Aziz dan Winggo melewati turunan cukup terjal. Tangan saya sontak berpegangan erat di pelana takut kalau-kalau terjatuh. Kunci keamanan naik gajah adalah biasakan tubuh selemas mungkin dan tetap jaga keseimbangan. Di bawah turunan itu terhampar sebuah sungai berair jernih yang berarus cukup tenang. Saya mengira kami hanya akan menyusuri pinggiran sungai, ternyata arah Aziz menuju ke seberang! Kami menyeberangi sungai naik gajah! Sebuah pengalaman yang cukup menegangkan. Coba di sungai ini ada buaya atau ikan piranha, pasti akan lebih menegangkan, pikiran saya melantur.

20121229-IMG_1400

Aliran sungai Sarah Deu yang cukup deras, seru untuk tubing

20130101-12573_124716451026781_1712489017_n

Perjuangan sebelum tubing (Photo by Mas Tardi)

Setelah sekitar 1 jam kami masuk hutan dan melewati beberapa aliran sungai, sampailah kami di garis finish yaitu di pinggir sungai jauh di dalam hutan. Agenda berikutnya adalah tubing. Sambil menunggu tim kedua sampai, kami menghabiskan waktu bermain air sungai yang segar. Sengatan sinar matahari yang membakar kulit memaksa kami berteduh di bawah pepohonan alih-alih bermain air. Setelah tim kedua datang dan ban untuk tubing sudah berada di lokasi, kami jalan kaki sebentar masuk hutan di sisi sungai mencari aliran air yang pas untuk memulai aktifitas tubing.

Sebelumnya, saya sudah pernah tubing di sungai Bahorok, Bukit Lawang, Sumatera Utara. Berbeda dengan pengalaman tubing saya bersama beberapa kawan  di Bahorok dengan menggunakan beberapa ban yang diikat, di sini 1 ban dipakai untuk 1 orang, atau untuk ban yang ukurannya besar bisa untuk berdua. Life jacket sudah dipasang dan ban sudah di tangan. Saatnya masuk ke dalam air. Saat kami masuk ke dalam air sungai, mendadak langit menjadi gelap dan hujan turun. Saya berada paling depan terseret arus jauh meninggalkan teman-teman yang lain. Kadang ban yang saya naiki memutar dan memaksa saya mengatur kembali arah ban agar saya bisa tetap menghadap searah aliran air. Di beberapa bagian sungai, arus bergerak pelan. Saat itulah saya diam, memejamkan mata, menajamkan telinga, dan terdengarlah suara nyanyian alam. Suara rintik hujan yang mulai berubah menjadi gerimis kecil menimpali suara desau angin menggoyang dedaunan. Suara burung, dengungan serangga, dan beberapa kawanan monyet terdengar di kejauhan.

Ketenangan saya terganggu saat aliran sungai menjadi deras kembali. Beruntung saya sedikit menepi dan bisa memegang sebuah batu sehingga saya bisa berhenti sejenak menunggui teman-teman di belakang. Tidak seperti sungai Bahorok yang berbatu banyak, di sungai Sarah Deu ini hanya di pinggir sungai saja yang terdapat cukup banyak batu. Walaupun kurang menantang jika dibandingkan dengan tubing di Bahorok, namun sensasi tubing sendirian di Sarah Deu ini memiliki kelebihan tersendiri. Suasana sepi dan private lebih terasa di sini. Tubing kami akhiri di bagian sungai di belakang camp CRU.

20130101-dsc_0100

Tubing di sungai Sarah Deu (Photo by Mas Tardi)

Sore menjelang, kamipun sudah bersih-bersih diri. Saatnya memasang tenda untuk bermalam. Pengen sih berkemah di hutan, tetapi dengan beberapa pertimbangan masih terdapat banyak gajah liar dan harimau sumatra, kami pilih memasang tenda di depan kandang Rosa, seekor anak gajah berusia 3 bulan yang memiliki ibu bernama Suci. Mungkin lain kali kami akan trekking dan berkemah ke dalam hutan untuk perjalanan 3 hari 2 malam.

..to be continued..

Iklan