Pati Punya Waduk Gunung Rowo


Ada sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang bernama Pati. Mungkin banyak yang tidak tahu tentang kota kecil ini. Pati, sebuah kota kabupaten yang namanya mungkin kalah terkenal dibandingkan kota-kota kabupaten sekitarnya seperti Kudus, Jepara, dan Rembang. Apalagi jika membandingkannya dari sisi pariwisata, saya yakin pasti Pati kalah. Bahkan ketika baca buku Lonely Planet edisi Indonesia, Kudus dan Jepara ikut dibahas. Sedangkan Pati, disinggung aja tidak (Haha..). Kudus yang terkenal dengan kota Kretek (karena banyak home industri ataupun industri besar produksi rokok) dan mempunyai tempat ikonik semacam Menara Kudus dan Gunung Muria, Jepara yang bernilai historis sebagai kota kelahiran pahlawan nasional RA Kartini dan mempunyai kepulauan wisata yang sangat indah yaitu Karimun Jawa, Serta Rembang yang juga mempunyai nilai historis sebagai kota tempat makam RA Kartini berada. Lalu Pati punya potensi wisata apa dong?

Bahkan saya sebagai orang Pati asli pun bingung kalau ditanya ada tempat wisata apa di kota saya. Jujur saja, dulu semasa saya masih tinggal disana saya memang jarang sekali explore tempat-tempat menarik di Pati. Namun ketika jiwa petualang (halah!) saya mulai membuncah sejak tinggal jauh dari kampung halaman, rasa ingin explore lebih banyak tentang kota kelahiran saya itu menjadi muncul. Baru akhirnya April lalu ketika saya berkesempatan mudik saya mengunjungi Waduk Gunung Rowo untuk PERTAMA KALI! Menyedihkan sekali saya sebagai orang asli Pati di umur yang sudah 20-an keatas ini baru pertama mengunjungi Waduk Gunung Rowo.. Secara Waduk Gunung Rowo adalah tempat wisata paling terkenal di Pati.

Pemandangan Waduk Gunung Rowo berlatar belakang pegunungan Muria

Dulu saya cuma mendengar tentang Waduk Gunung Rowo dari kawan-kawan dan orang lain. Kebanyakan mereka menganggap tidak ada yang istimewa dari Waduk yang berada di desa Sitiluhur, Kecamatan Gembong ini. Misal nih dulu waktu masih sekolah juga pernah ngajakin kawan-kawan untuk menemani kesana, cuma jawaban mereka selalu, “arep ngopo kowe ning Gunung Rowo? Nggone yo ngono tok wae kok”. Kesannya berkunjung ke Waduk Gunung Rowo itu tidak menyenangkan dan buang-buang waktu aja. Tapi ternyata pengalaman saya kesana sangat berbeda dengan apa yang dikatakan kawan-kawan. Entah saya yang mampu melihat suatu keindahan di Waduk Gunung Rowo entah kawan-kawan saya yang tidak bisa menikmati. Tapi menurut saya, Wadung Gunung Rowo sangat menarik.

Perjalanan untuk mencapai Waduk Gunung Rowo dari kota Pati tidaklah sulit. Apabila naik kendaraan pribadi, ke arah Tlogowungu dan ikuti papan petunjuk jalan ke arah Waduk Gunung Rowo. Ada juga angkutan umum untuk menuju kesana. Perjalanan ke Waduk Gunung Rowo juga memiliki pemandangan yang indah. Selain persawahan hijau membentang ada pula pemandangan penambang pasir tradisional di sebuah sungai kecil. Perjalanan dari kota Pati kurang lebih ditempuh dalam waktu setengah jam.

Di kejauhan, nampak nelayan mencari ikan di Waduk Gunung Rowo

Daya tarik utama dari Waduk Gunung Rowo ini adalah pemandangan waduk dengan latar belakang pegunungan muria. Sayang, ketika saya berkunjung cuaca sedang mendung. Andaikan cerah pasti pemandangan pegunungan muria dan refleksinya di atas air waduk akan terlihat sangat indah. Di sebelah timur waduk juga ada sebuah bukit kecil yang diatasnya ada gazebo untuk tempat istirahat sambil menikmati pemandangan. Areal di atas bukit yang cukup luas itu bisa juga dimanfaatkan untuk piknik keluarga dengan menggelar tikar terus makan rame-rame masakan yang sudah dibawa dari rumah atau bahkan camping memakai tenda untuk bermalam. Rekreasi yang murah meriah bukan?

Saya kemudian berkeliling waduk melalui tanggul yang mengelilingi waduk sambil menghirup sejuknya udara dan menikmati pemandangan waduk dari segala sisi. Ketika berkeliling, saya melihat ada beberapa motor yang parkir di beberapa spot di sekitar waduk yang bersemak-semak dan apabila diperhatikan dengan seksama di spot tersebut ada sepasang muda mudi sedang berduaan. hmmm.. Saya sih cuek aja dan tetap melanjutkan menikmati suasana Waduk Gunung Rowo. Sampai kemudian langkah saya terhenti di sebuah gubug di pinggir waduk yang merupakan tempat istirahat. Sambil beristirahat saya memesan ikan bakar di warung sekitar. Nikmat sekali makan ikan bakar dan sambal dengan harga murah meriah sambil tetap menikmati suasana Waduk Gunung Rowo.

View Wadung Gunung Rowo

Fungsi dari Waduk Gunung Rowo ini adalah sebagai wadah penampung air dan sebagai sarana irigasi yang dibuktikan dengan adanya tanggul dan pintu air yang mengatur keluarnya air dari waduk. Bagi masyarakat sekitar, Waduk Gunung Rowo juga memberikan mata pencaharian. Selain dari sektor wisata, para nelayan juga banyak yang mencari ikan disana. Ikan bakar yang saya makan adalah hasil tangkapan nelayan dari waduk ini.

Dan, mengenai nama, kenapa dinamakan Waduk Gunung Rowo? Menurut legenda, konon nama Gunung Rowo itu terjadi karena perbedaan pendapat antara Laksamana Ceng Ho dan Sunan Muria. Ketika mengunjungi tempat yang kini disebut Gunung Rowo ini, Sunan Muria mengatakan tempat ini adalah sebuah gunung sedangkan Laksamana Ceng Ho berpendapat bahwa tempat ini adalah sebuah rawa. Untuk menyatukan pendapat tersebut, maka dinamakan lah tempat ini sebagai Gunung Rowo. Agak aneh dan gak masuk akal sih ya ceritanya. Masa bedain gunung atau rawa aja bingung sih Ceng Ho dan Sunan Muria ini. Haha.. Tapi memang, kalau diperhatikan dengan seksama waduk yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1928 ini menyerupai gunung dan rawa.

Ternyata kota kelahiranku juga punya potensi wisata yang gak kalah bagus dengan daerah lain. Suatu saat, kalau saya pulang kampung, saya pasti kesana lagi. Menikmati keindahan waduk ini dengan cuaca dan suasana berbeda. Mungkin sunrise dan sunset bisa dinikmati dengan indah di Waduk Gunung Rowo. Dan pastinya, saya akan explore lebih lanjut tempat-tempat menarik di kota kelahiran saya di lain kesempatan.

Nelayan mencari ikan dengan peralatan seadanya

Penambang pasir tradisional di sungai menuju waduk Gunung Rowo

Iklan