Plesir Ke Samosir


Danau Toba usai subuh

Matahari masih mengintip malu di ufuk timur. Warna lembayung yang terpancar menghiasi langit biru memantul dari permukaan air yang tenang. Di kejauhan, perahu-perahu kecil milik nelayan mulai berlayar. Nuansa eksotis menguar di depan saya. Setitik surga saya rasakan di Danau Toba pagi itu.

Usai subuh saya sengaja tidak kembali bergelut dengan selimut. Kebetulan kamar yang saya tinggali memang menghadap langsung ke Danau Toba. Saya buka pintu balkon kamar untuk melihat suasana pagi pertama saya di Parapat. Saya lepaskan pandangan mengamati tiap sudut danau yang tertangkap oleh penglihatan saya. Sejenak saya pejamkan mata sambil menghirup dalam-dalam udara sejuk tanpa polusi seakan-akan saya mampu menampung semua oksigen bersih yang ada.

Toba Cruise

Agenda hari ini adalah berkunjung ke beberapa tempat di Pulau Samosir menggunakan kapal sewa. Selepas sarapan, saya bersama kawan-kawan dari komunitas Jejak Kaki sudah siap berada di kapal yang bertuliskan Toba Cruise 07. Tujuan pertama adalah ke Desa Simanindo untuk melihat tarian adat dari Pulau Samosir, yaitu Tari Tor-tor dan Tari Sigale-gale. Konon, tarian Sigale-gale ini berawal dari kesedihan seorang raja karena putra satu-satunya meninggal. Dibuatlah patung atau boneka kayu berbentuk anak lelaki untuk mengenang putra tersebut. Di masa lalu, untuk menggerakkan boneka Sigale-gale ini menggunakan kekuatan mistis, dengan cara memasukkan roh ke dalam boneka agar sosok boneka itu menjadi hidup untuk sementara.

Lama perjalanan 1 jam dari Parapat tidak terasa karena mendapat suguhan harmoni alam Toba yang memukau ditambah dengan cuaca yang sangat cerah. Sampailah kami di Desa Simanindo. Turun dari kapal, kami harus berjalan kaki sekitar 100 meter untuk menuju Museum Huta Bolon Simanindo, tempat pentas tarian Sigale-gale. Suasana cukup ramai siang itu. Selain pengunjung lokal, pengunjung asing dari Asia Timur dan Eropa pun cukup banyak.

Musik tradisional Batak hasil dari pukulan ogung (gong), petikan hasapi (kecapi), tiupan tulila (trompet kecil), dan beberapa alat musik lain yang dimainkan oleh para pemusik membentuk harmoni klasik yang jauh dari kesan modern. Mendengarnya seperti dihempaskan kembali ke masa lalu mengikuti kisah legenda budaya purba dari tanah Batak.

Pemusik adat Batak

Sekarang kami berada di sebuah kampung yang bernama Huta Bolon. Huta adalah kampung tradisional Batak yang hanya memiliki satu pintu dan dikelilingi oleh Benteng dan pohon bambu untuk mencegah musuh masuk ke dalam kampung. Biasanya, dalam satu Huta dihuni oleh beberapa keluarga yang terikat dalam satu kerabat. Rumah-rumah di dalam Huta berbaris di samping kanan dan kiri Rumah Bolon, sebutan untuk rumah Raja. Di hadapan rumah Raja terdapat lumbung padi yang dinamakan Sopo. Halaman luas antara rumah Raja dan Sopo itulah dahulu dipergunakan untuk Mangalahat Horbo, yang berarti acara adat memotong kerbau dan memukul gondang. Kerbau yang akan disembelih digiring menuju Borotan, sebuah tonggak yang dihiasi dedaunan yang melambangkan pohon suci.Rangkaian upacara adat Mangalahat Horbo mulai dilakukan oleh para penari berpakaian adat Batak lengkap dengan ulos yang tersampir di bahu. Nyanyian berbahasa Batak dengan sesekali teriakan “Horas!” bersinergi dengan alunan musik. Upacara ini ada 12 babak, diawali dari Gondang Lae-lae sampai Gondang Sigale-gale dipamerkan kepada pengunjung . Itulah setting pertunjukan tarian tradisional Batak dari Museum Huta Bolon Simanindo yang kami saksikan.

Tari Sigale-gale

Sesi pertunjukan itu diakhiri dengan ajakan menari bersama dari para penari. Serentak banyak pengunjung yang bersemangat menerima ajakan itu. Saya pun ingin ikut menari bersama. Tapi apa daya, karena kekurangtangkasan, saya tidak mendapat ulos yang harus dipakai ketika menari bersama. Keriangan, senyuman, teriakan dan kebersamaan yang sangat intim antara penari adat dengan para pengunjung membuat suasana hati sejuk di tengah panasnya cuaca. Sebelum meninggalkan museum yang merupakan rumah adat warisan Raja Sidauruk, para pengunjung diberikan kesempatan berfoto bersama penari sebagai kenang-kenangan.

Setelah makan siang di Tuk Tuk, kami melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi Ambarita. Cuaca yang mendadak menjadi mendung dan gerimis tidak menyurutkan semangat kami. Setelah kapal bersandar, kami harus jalan kaki untuk menuju ke Huta Siallagan. Cukup jauh apabila dibandingkan dengan jalan kaki dari pelabuhan Simanindo ke Museum Huta Bolon Simanindo. Sudah bisa diduga, kalau di Huta Bolon Simanindo dahulu dihuni oleh keluarga dari kerajaan Simanindo, di Huta Siallagan ini dulunya dihuni oleh keluarga Raja Siallagan.

Ukiran bergambar cicak dan payudara

Di dalam Huta Siallagan ini terdapat beberapa rumah adat batak yang berjejer. Seperti umumnya rumah adat Batak, dalam satu rumah dulunya hidup berdampingan satu sampai empat keluarga. Hal ini menandakan bahwa orang Batak memiliki sifat keterbukaan yang menurut saya memiliki konsekuensi antar anggota keluarga tidak memiliki privacy. Apabila kita cukup jeli melihat rumah adat batak, selain bentuknya yang khas yaitu berdiri di atas tiang kokoh yang memungkinkan memiliki ruangan di bawah yang biasanya digunakan untuk kandang hewan peliharaan, terdapat ornamen unik berbentuk empat buah payudara dan seekor cicak. Payudara memiliki arti kesuburan, kekayaan, dan simbol junjungan untuk selalu berbakti kepada Inang, ibu dalam bahasa Batak. Cicak memiliki arti bahwa orang Batak harus bisa seperti cicak yang gampang beradaptasi dan hidup di rumah mana saja, bisa melekat dan dalam keadaan genting bisa mampu menyelamatkan diri dengan mengecoh musuh. Posisi cicak yang menghadap ke payudara melambangkan bahwa sejauh-jauhnya orang Batak merantau akan tetap kembali ke ibunya dan kampung halamannya. Filosofi yang sangat mulia bukan?

Meja batu dan pohon kebenaran

Yang menarik bagi saya di Huta Siallagan ini adalah adanya sebuah Hau Habonaran atau pohon kebenaran di tengah Huta yang di bawahnya terdapat satu set meja batu bundar dikelilingi dengan kursi yang terbuat dari batu juga. Pada jaman dahulu di mana orang Batak masih menganut agama malim (yang pengikutnya dinamakan parmalim), semacam agama yang mempercayai kekuatan roh nenek moyang, semua urusan dan peristiwa kehidupan mereka selesaikan secara adat. Di kursi batu itu lah para Tetua Adat, Raja Huta, Dukun pemilik ilmu kebatinan, dan para undangan lain berkumpul untuk menyelesaikan masalah adat serta melakukan persidangan atau mengadili sebuah perkara kejahatan. Saya jadi berpikir, melihat peradaban Batak yang sangat tua mungkin inilah bentuk musyawarah mufakat yang untuk pertama kali ada di Indonesia.

Meja batu tempat eksekusi hukuman mati

Ada kelompok kursi batu lain yang berada tidak jauh dari rumah Huta. Di kursi batu ini lah yang dipakai untuk pelaksanaan hukuman mati bagi yang terbukti melakukan kejahatan setelah disidang di kursi batu sebelumnya. Sebelum dihukum mati, sang penjahat boleh memohon permintaan terakhir kepada Raja. Hukuman mati yang bisa disaksikan oleh masyarakat umum ini dilakukan dengan cara penyiksaan yang cukup keji yang tidak bisa kita bayangkan. Siksaan ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa sang penjahat tidak memiliki kekuatan ghaib atau mistis. Setelah itu barulah tubuh sang penjahat diletakkan di atas batu pemancungan tanda eksekusi pancung siap dilaksanakan. Dengan sekali tebas, algojo pancung berhasil memenggal kepala sang penjahat. Setelah meninggal, upacara itu pun belum selesai. Hati dan jantung sang penjahat diambil, dicincang, lalu dimakan oleh Raja dan semua yang hadir di sana. Sedangkan darahnya diminum bersama. Menurut kepercayaan mereka dahulu, memakan bagian tubuh sang penjahat berguna untuk menambah kekuatan. Energi atau kekuatan sang penjahat dipindahkan ke tubuh mereka dengan cara memakan bagian tubuhnya. Setelah itu baru bagian kepala dikubur di tempat terpencil yang jauh dari Huta Siallagan dan tubuhnya dibuang ke danau. Dan selama satu atau dua minggu Raja memerintahkan masyarakat tidak boleh menyentuh air danau selama satu atau dua minggu karena mereka percaya air tersebut masih berisi setan. Namun hal tersebut kini sudah tidak ada lagi. Sejak agama Kristen dibawa ke tanah Batak oleh Dr.Nommensen, praktek hukuman pancung seperti itu sudah dihapuskan.

Cerita di atas saya dapat hasil mendengarkan penjelasan dari Pak Sukarman, seorang pemandu wisata di sana. Tidak menyangka bahwa pernah terjadi kanibalisme di tanah Batak. Membayangkannya saja membuat saya cukup mual.

Gerbang Selamat Datang di Tomok

Tujuan kami selanjutnya adalah Tomok. Dibandingkan dengan Simanindo dan Ambarita, denyut kehidupan di Tomok lebih berdetak. Terlihat dari banyaknya kapal dan perahu yang bersandar di dermaga, penjual jajanan  ringan yang dengan semangat menawarkan dagangannya ke pengunjung, serta toko souvenir yang mepet-mepet yang hanya menyisakan jalan selebar 2.5 meter bagi para pejalan. Tujuan kami mengunjungi kubur batu purba milik Raja Sidabutar yang berusia ratusan tahun. Awalnya saya tidak tahu menahu tentang makam orang pertama yang menginjakkan kaki di Tomok ini. Memasuki kompleks makam yang berada di tengah-tengah lapak penjual souvenir ini kami diharuskan memakai ulos yang disampirkan di bahu. Saya duduk bersama pengunjung lain di tempat duduk berjejer yang disediakan tepat di hadapan makam untuk mendengarkan penjelasan tentang sejarah makam Raja Sidabutar ini. Ada beberapa makam yang berada di sana. Ada makam sarkofagus Raja Sidabutar I yang bernama asli Raja Opung Sori Buntu Sidabutar yang konon memiliki usia 650 tahun. Selain itu ada makam sarkofagus Raja Sidabutar II yang bernama Raja Ujung Barita Naibatu Sidabutar yang terkenal karena kegemarannya berperang. Sosok Raja Sidabutar II ini khas dengan rambut panjang. Tak heran, karena kabarnya kesaktiannya terletak di rambut panjangnya. Di makam Raja Sidabutar II ini di bagian depan bawah terdapat ukiran batu berbentuk sosok lelaki. Itu adalah  patung Tengku Moh. Said, panglima perang Raja Sidabutar II yang berasal dari Aceh. Panglima perang ini memiliki cara yang unik dalam berperang. Pada saat itu, orang Batak memiliki kepercayaan akan mendapat kesialan apabila melihat aurat orang lain. Ketika berperang, sang panglima hanya memakai kain sarung. Ketika berhadapan dengan musuh, langsung dibuka sarungnya. Seketika itu lah pasukan musuh kocar-kacir. Pasukan Raja Sidabutar II pun menang telak tanpa pertumpahan darah. Cara berperang yang cerdik bukan? Di atas bagian belakang sarkofagus Raja Sidabutar II ada patung seorang wanita. Dialah Anting Malela Boru Sinaga, tunangan Raja Sidabutar II. Setelah lama bertunangan, Raja berencana melakukan pernikahan. Namun ternyata Anting Malela kabur bersama dengan lelaki lain yang mengguna-gunainya. Karena marah dan kecewa, Raja Sidabutar II pun memantrai Anting Malela hingga hilang ingatan dan pergi entah kemana. Patung tersebut untuk memberikan peringatan agar bagi perempuan yang sudah bertunangan harus melakukan pernikahan.

Makam batu Raja Sidabutar

Selain dua sarkofagus tersebut, ada juga beberapa makam batu lain dan makam dengan nisan bergambar salib. Makam itu adalah makam Raja Sidabutar III yang bernama asli Opung Solopuan Sidabutar Nomensen. Raja ketiga ini beragama kristen sehingga dikuburkan di dalam tanah. Di kompleks makam ini terdapat juga makam-makam kecil yang merupakan makam para serdadu raja yang gugur dalam perang.

Batak benar-benar merupakan peradaban tua yang tetap eksis sampai sekarang. Pantas saja identitas kebudayaan dan adat mereka masih terasa kental dan kuat sampai sekarang. Walaupun beberapa nilai seperti nilai agama sudah berubah, namun secara keseluruhan budaya adat Batak tampak tidak terseret oleh arus modernisasi.

Hari sudah menjelang sore, sebelum kembali ke Parapat, saya menyempatkan diri membeli buah tangan selembar ulos sebagai tanda penghargaan saya kepada budaya dan adat Batak yang luar biasa ini.

Iklan