Sepedaan Asyik Menjelajah Banda Aceh


20121103-2012-11-03_10-09-58Jika seorang biker adalah seseorang yang dengan intens melakukan hobi bersepeda sampai pergi kemana-mana pun naik sepeda, maka saya jauh dari sebutan biker. Namun bila definisi biker dipersempit  menjadi pengendara sepeda, saya bisa termasuk di dalamnya. Ya, saya memang tidak terlalu gemar bersepeda. Tetapi ada waktu-waktu luang yang saya pergunakan untuk bersepeda. Bukan sepedaan dengan rute jauh dan panjang ke luar kota. Yang saya lakukan hanya sekedar berolahraga untuk mencari sedikit keringat. Kenapa sedikit? Yah, karena memang kalau saya bersepeda hampir bisa dipastikan dengan kecepatan yang lambat dan santai 🙂

Alih-alih mengikuti berbagai event fun bike yang semakin sering diadakan di Banda Aceh, saya lebih senang bersepeda sendiri atau dalam kelompok kecil. Seingat saya baru sekali saya ikut fun bike. Kata siapa fun bike itu fun? Bagi saya, tidak sama sekali. Malah stres saya lihat para peserta fun bike yang berjumlah ribuan menyemuti jalanan kota yang kebanyakan di antara mereka belum memiliki kesadaran berlalu lintas dan kebersihan lingkungan yang baik. Alhasil, acara fun bike hanya menghasilkan sampah-sampah yang berserak di jalanan.

I have my own fun biking. Biasanya pada sabtu pagi saya sepedaan. Saya memilih sabtu pagi karena biasanya jalanan lebih sepi dibandingkan hari minggu pagi. Namun, tak jarang pula saya bersepeda pada sore hari. Cukup berkeliling kota Banda Aceh mengikuti kemana pedal sepeda terkayuh bisa menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan bagi saya. Ternyata kota Banda Aceh seru juga lho dijelajahi dengan bersepeda. Saking serunya, saya pun mempunyai rute favorit menikmati kota Banda Aceh dengan bersepeda. Inilah Top 3 rute favorit saya:

1. Kuta Alam – Ulee Lheue – Peukan Bada

Setiap rute saya mulai dari sekitaran Kuta Alam karena saya tinggal di sana. Dan di rute pertama ini, untuk menuju ke Ulee Lheue, ada 2 alternatif jalan yang saya suka. Pertama, melewati Museum Tsunami dan lapangan Blang Padang kemudian menyusuri jalan Sultan Iskandar Muda. Kedua, melewati Pasar Aceh kemudian menyusuri jalan Habib Abdurrahman di Lampaseh Kota (jalan di belakang BNI Cabang Banda Aceh). Di sekitaran Ulee Lheue ini banyak tersebar escape building yang dibangun pasca bencana tsunami. Tidak jarang, ketika bersepeda dengan rute ini, saya berhenti di salah satu escape building dan menaikkan sepeda saya ke atas bangunan tersebut lalu menikmati sisi lain Banda Aceh dari atas bangunan. Berbelok menuju Peukan Bada, mulai terlihat jelas perbukitan yang membentang panjang di pinggir pantai. Ada juga sungai yang memiliki pembatas beton yang cukup lebar untuk bersepeda. Dan saat sudah memasuki Peukan Bada, saya berbelok menuju pedesaan Gampong Gurah. Di jalan raya beraspal yang berujung pada areal hijau persawahan ini terdapat Monumen Kubah Masjid Al Tsunami. Jarak pergi pulang untuk rute ini sekitar 25 km.

Kubah Masjid Al Tsunami

20110521-IMGP3822

Pinggir sungai sekitar Ulee Lheue – Peukan Bada

2. Kuta Alam – Lamdingin – Alue Naga

Rute ini adalah rute nomor 2 favorit saya. Melewati simpang Jambo Tape menuju ke utara, saya menyusuri jalan Syiah Kuala. Kalau di rute sebelumnya pemandangan hijau persawahan yang bisa dinikmati, untuk rute ini adalah pemandangan tambak-tambak air asin lengkap dengan hijaunya tetumbuhan bakau. Di ujung jalan Syiah Kuala ini, tepat berada di pinggir pantai, terdapat makam ulama besar Aceh yang namanya diabadikan sebagai nama salah perguruan tinggi di Banda Aceh, Syiah Kuala. Mampir sebentar untuk berziarah sekaligus mengagumi kebesaran Allah dengan melihat makam yang selamat dari terjangan gelombang tsunami ini sering saya lakukan. Kayuhan sepeda berlanjut ke arah pantai Alue Naga. Jalan Makam Syiah Kuala – Alue Naga ini adalah jalan pedesaan yang di kanan kiri terdapat rumah-rumah mungil yang seragam. Tidak ada hiruk pikuk lalu lintas yang ramai di sini. Bahkan bisa dibilang sunyi dan senyap. Hanya suara hembusan angin meniup lembut pepohonan nyiur yang sering terdengar. Di situlah kelebihannya. Sunyi dan senyap yang saya nikmati sambil bersepeda bertransformasi menjadi suatu kedamaian yang luar biasa. Sesampai di Alue Naga, kesunyian berubah menjadi lebih ramai. Suara mesin perahu dan aktivitas para nelayan dan pemancing menemani kegiatan bersepeda saya. Tak jarang juga, setelah lepas dari Alue Naga, saya mampir ke Hutan Kota Tibang. Ruang terbuka yang masih cukup baru ini sangat menyenangkan untuk tempat melakukan berbagai macam aktivitas olah raga. Secara umum rute ini lebih enak dinikmati ketika sore hari. Melihat warna jingga langit yang terpantul di air tambak dan laut serta menyaksikan matahari terbenam di balik tanaman bakau sungguh pemandangan yang elok. Namun, apabila ingin menghindari keramaian, lewatkan berkunjung ke Hutan Kota di sore hari. Karena biasanya ketika sore, di Hutan Kota selalu ramai orang beraktivitas. Dan ketika pulang biasanya saya mengambil rute jalan utama yaitu jalan T Nyak Arief. Jarak pergi pulang untuk rute ini sekitar 20 km.

Hutan Kota Tibang

Hutan Kota Tibang

Suasana sore di pantai sekitar Makam Syiah Kuala

Suasana sore di pantai sekitar Makam Syiah Kuala

3. Kuta Alam – Gampong Pande – Gampong Jawa

Rute ini cukup pendek dilalui, yaitu sekitar 11 km pergi pulang. Belum lama memang saya bersepeda dengan rute ini. Tapi rute ini langsung menjadi rute favorit saya. Pasalnya, saya bisa sekalian berwisata sejarah saat melewati rute ini. Untuk menuju Gampong Pande, saya mengayuh sepeda menyusuri jalan Tgk Dianjong yang berada di sisi kiri Krueng Aceh. Sebelum sampai di Masjid Tgk Dianjong, saya berbelok ke kiri menuju Gampong Pande. Sejarah mencatat, dahulu Gampong Pande adalah cikal bakal kota Banda Aceh, tempat awal mula kerajaan Aceh Darussalam yang didirikan oleh Sultan Johansyah pada 1 ramadhan 601 H. Maka tak heran, di Gampong Pande tersebar peninggalan-peninggalan sejarah berupa makam-makam tua, nisan-nisan kuno, dan pecahan-pecahan keramik antik. Awalnya saya pun tidak tahu letak persis beberapa kompleks makam seperti Makam Putroe Ijo, Makam Raja-raja Kampung Pande dan Makam Tuan Di Kandang di Gampong Pande tersebut. Tapi, hasil berkeliling dengan sepeda, ternyata makam-makam tersebut tidak susah ditemukan. Sayangnya,  keterangan tentang sejarah makam-makam tersebut masih sangat kurang. Hanya ada tulisan nama kompleks makam tanpa keterangan lebih detail untuk tiap makam. Alih-alih bisa menambah pengetahuan sejarah, malah semakin membuat saya penasaran. Beberapa penduduk yang saya tanyai pun tidak lebih tahu daripada saya. Alhasil, saya hanya bisa mengagumi dan mengabadikan makam bernisan kuno tersebut. Di Gampong Pande tidak banyak perumahan penduduk. Sebagian besar wilayah saya lihat banyak rawa-rawa serupa tambak yang dipenuhi dengan tanaman bakau lebat. Kemana pedal terkayuh, saya pasrah. Semakin saya menjelajah jalanan di Gampong Pande, semakin terlihat jejak sejarah besar di masa lalu yang tidak terawat. Banyak sekali makam dan nisan kuno tak bernama yang terbengkalai di tengah rawa-rawa. Cukup miris melihatnya.

Usai berwisata sejarah, saya lanjutkan mengayuh sepeda menuju ke pantai di ujung Krueng Aceh. Namun sepertinya keputusan saya itu harus dibayar cukup mahal. Tahu kan kawan sebelum pantai di ujung sungai itu ada tempat pembuangan akhir sampah? Saya terpaksa menggenjot sepeda saya kencang-kencang ketika melewatinya. Baunya sungguh mengganggu hidung saya. Sampai saya merasa mual dan hampir muntah. Mungkin karena biasanya naik motor ketika melewatinya, baru ketika naik sepeda seperti ini jadi sangat terasa busuk bau sampah itu. Sebagai pelajaran, lain kali saya tidak mau lagi naik sepeda ke sana. Capek kalau ngebut menghindari bau sampah. Hehe..

Nisan yang teronggok di Kompleks Makam Tuan Di Kandang

Nisan yang teronggok di Kompleks Makam Tuan Di Kandang

Bagaimana kawan, tertarikkah menjelajah Banda Aceh dengan sepeda? Selain bisa membuat badan sehat, sepedaan juga bisa jadi alternatif lain yang menarik untuk menikmati kota Banda Aceh.

Iklan