Weekend Escape: Lost in Lamteuba


20130531-IMG_5124

Night in Lamteuba

Saya percaya ada kisah luar biasa untuk diceritakan dalam setiap perjalanan. Bukan hanya kisah menyenangkan tetapi juga kisah yang kurang menggembirakan. Kisah saya berikut ini salah satunya.. 

Akhir pekan lalu (1/6) saya melakukan perjalanan yang bisa dibilang cukup impulsif dengan kedua teman saya, Mas Tardi dan Bang Fauzan. Ada saya, Mas Tardi, dan Bang Fauzan, ngapain lagi kalau bukan ber-camping ria menghabiskan akhir pekan. Persiapan yang singkat membuat kami sepakat memilih tempat camping di sekitar kaki gunung Seulawah. Rencananya adalah kami bertiga berkonvoi naik motor dengan rute jalan raya Banda Aceh – Indrapuri – Seulimeum – Lamteuba untuk mencari tempat camping padang rumput berlatar belakang gunung Seulawah. Tempat yang kami cari juga bukan yang jauh dari peradaban, hanya sekedar padang rumput yang aksesnya gampang dari jalan raya. Tapi rencana tinggallah rencana, tergoda dengan sebuah bukit yang tampak menggiurkan untuk dipasak paku tenda, kami pun tidak istiqamah dengan rencana yang telah disusun.

Kami bertiga sebenarnya belum kenal baik daerah Lamteuba. Hanya Mas Tardi yang sudah pernah ke sana, itu pun terakhir ke sana pada tahun 2009. Perjalanan menuju Lamteuba sangat menyenangkan, pemandangan padang rumput hijau, sawah-sawah mengering, dan di kejauhan puncak Seulawah tampak malu-malu tertutup awan menemani kami. Sampailah kami di Mukim Lamteuba menjelang ashar. Kami berhenti di masjid menunggu waktu shalat sebelum melanjutkan pencarian tempat camping. Di masjid itu kami mendapatkan info dari seorang kakek tentang tempat camping yang bagus, yaitu di Desa Pulo dekat dengan markas Brimob.  

20130531-IMG_5095

Pemandangan jalur Seulimeum – Lamteuba

20130531-IMG_5107

Lestarikan sumber air

Usai shalat, kami menuju ke Desa Pulo. Namun entah bagaimana kami tidak menemukan markas Brimob namun malah masuk ke jalan sempit diapit oleh sawah dan kebun penduduk. Di tengah jalan kami bertemu dengan pasukan Brimob yang sepertinya baru saja melakukan patroli di atas gunung. Tatapan mereka penuh curiga kepada kami. Maklum lah karena memang di sana bukan tempat yang umum untuk camping. Setelah meminta izin kepada pasukan Brimob itu kami melanjutkan perjalanan. Kenapa banyak Brimob patroli di sana? Selidik punya selidik ternyata di kaki Gunung Seulawah ini masih sering ditemukan ladang ganja. Baru saya tahu kemudian dari berita yang saya temukan di sini, ternyata pada Februari lalu sempat ditemukan ladang ganja seluas 17 hektare di kaki Gunung Seulawah. Akankah kami mendirikan tenda di tengah kebun ganja? 😮

Jarum pendek jam sudah mendekat ke angka 6 ketika jalan yang kami susuri berakhir di sebuah kebun yang ditanami pepaya dan markisa milik penduduk. Padang rumput di atas bukit yang kami tuju mulai tampak semakin dekat, tapi kami tidak tahu bagaimana cara ke sana. Bertemulah kami dengan seorang Ibu yang sedang berkebun. Kali ini Bang Fauzan yang jadi juru bicara karena sang Ibu sepertinya hanya bisa berbahasa Aceh. Hasil dari obrolan itu kami mendapatkan tempat untuk menitipkan motor, yaitu di dekat gubug milik sang Ibu, serta sebuah pepaya ranum untuk bekal kami bersantap nanti malam.  

20130531-IMG_5119

Tenda sudah didirikan

20130601-IMG_5152

Aliran sungai kecil

20130531-IMG_5125

Perbekalan logistik camping

Dengan pertimbangan kurang mengetahui medan dan maghrib yang hampir menjelang, akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan tenda tidak jauh dari kebun milik Ibu yang kami lupa bertanya siapa namanya itu. Tepat di sebuah tanah cukup lapang di pinggir sungai kecil tenda kami berdiri. Kalau dalam camping terdahulu kami selalu mengutamakan keindahan pemandangan, tapi kali ini tidak. Bahkan kami pun tidak mendapatkan pengalaman menikmati sunset. “Beginilah seharusnya berkemah, harus dekat dengan sumber air”, kata Mas Tardi. Walaupun tanpa pemandangan memanjakan mata ada yang istimewa dibandingkan dengan pengalaman camping kami sebelumnya. Ketika malam baru saja datang, suara-suara hewan primata di kejauhan terdengar, begitu juga serangga-serangga mulai eksis dengan nyanyiannya masing-masing. Suara gemericik aliran air sungai menambah hidup suasana malam itu.

Lapar pun melanda. Saatnya kami membuka bekal yang sudah kami siapkan dari rumah. Walaupun judulnya camping, tapi untuk bekal makanan, harus lengkap dong kuantitas, kualitas, dan tak lupa kadar gizinya. Empat sehat lima sempurna gitu, tapi minus minuman susu. Seekor ayam kampung yang sebelumnya sudah diungkep siap untuk kami bakar untuk makan malam. Sumber protein hewani dari ayam kami lengkapi dengan asupan karbohidrat dari kentang yang juga kami bakar. Makan usai, perut kenyang, hati senang, saatnya tidur. Hehehe.. 

Malam itu terlihat cukup banyak bintang, yang artinya langit cukup cerah. Saya tidur lebih dulu daripada kedua teman saya. Saya tidur sangat nyenyak, tanpa terganggu apa pun. Bahkan suara cekakakan kedua teman saya pun tidak membuat saya terganggu. Sampai di suatu saat sepertiga malam terakhir saya merasa dingin dan celana saya basah kuyup. Sontak saya terbangun dan seketika panik, “Air! Ada air masuk tenda”. Hujan di luar terdengar sangat deras. Angin yang berhembus kencang membuat pepohonan bergesekan berisik. Di dalam tenda, kami bertiga meraba-raba dalam gelap mencari senter. Lampu yang tergantung di atas tenda pun kami hidupkan. Hasil analisis kami, penyebab air hujan bisa masuk ke dalam tenda adalah karena sebelah kiri dan kanan kain terluar tenda tidak kami ikat dengan pasak bumi. Itulah yang menyebabkan lapisan luar yang terkena air hujan deras akhirnya menempel pada lapisan dalam tenda yang notabene tidak tahan air. Merembeslah air ke dalam tenda. Dengan cekatan, Mas Tardi, memakai jas hujan, keluar tenda lalu mengikat sisi kanan dan kiri tenda dengan tali yang disambungkan dengan pasak bumi. Saya di dalam tenda sibuk mengganti celana dengan celana jas hujan yang tahan air. Usai membersihkan air di dalam tenda saya pun tertidur pulas lagi. Dan di luar hujan tetap mengguyur bumi tanpa ampun.

20130531-IMG_5130

Ayam bakar, anyone?

Insiden malam sebelumnya tidak membuat pagi kami menjadi terganggu. Saya bangun paling pagi. Matahari pagi yang cerah mulai mengintip dari balik dedaunan. Saya keluar tenda dengan wajah ceria menghirup udara sejuk. Bahkan menjadi lebih ceria ditemani suara nyanyian pagi para siamang yang terdengar sangat dekat. Terlihat di dahan-dahan pohon di atas bukit yang berjarak sekitar 100 meter dari tempat kami berkemah, sekelompok siamang sedang menyapa pagi, riuh bersahut-sahutan. Ini pengalaman baru bagi saya. Suara ceria para siamang itu kontras dengan keadaan pepohonan yang ambruk ditebangi oleh manusia pada jarak kurang dari 50 meter di depan tenda kami. Ah, suara hutan hijau bersanding dengan hasil penebangan liar, ironis sekali.  

Sambil mendengarkan para siamang yang masih tetap bernyanyi, kami bersiap untuk sarapan. Pasta berjenis penne yang kami bawa dari rumah mulai kami rebus, lengkap dengan potongan jagung, wortel, dan sayuran lainnya. Setelah masak, kami siram penne dengan saus khusus pasta yang juga sudah kami bawa dari rumah. Kalau kurang pedas, tinggal ditambah saus pedas saja. Sederhana, mengenyangkan, dan cukup menyehatkan.

20130601-IMG_5136

Penebangan liar?

20130601-IMG_5175

Markisa muda

Sekitar pukul 09.30, tenda yang basah malam sebelumnya sudah mulai mengering. Saatnya bersiap pulang. Usai berkemas, ternyata di kebun tempat kami parkir sepeda motor juga sudah mulai ada aktivitas. Kalau sore sebelumnya kami hanya bertemu dengan sang Ibu ditemani seorang anaknya yang masih balita, kali ini anggota keluarga mereka lengkap. Seorang Bapak, Ibu, dan tiga orang anak. Sang Bapak tampak lebih ramah bagi saya, karena bisa berbincang dengan Bahasa Indonesia. Bahkan kami sempat ditawari makan buah markisa muda. Rasanya asam tapi menyegarkan.  

Jalanan becek akibat hujan malam sebelumnya sedikit merepotkan kami saat perjalanan pulang. Apalagi bagi Mas Tardi yang menaiki motor bebek matic. Agak kasihan memang melihat perjuangan motor bebek kami yang seharusnya tidak untuk jalur off road seperti ini. Menjelang memasuki peradaban Desa Pulo, kami menoleh ke belakang. Dan di sana berdiri angkuh Gunung Seulawah tampak dekat sekali. Berarti kami memang tidur di kaki gunung itu malam tadi. Cuaca yang lebih cerah, tanpa awan, saat pulang, membuat kami lebih jelas melihat Gunung Seulawah dibandingkan dengan saat pergi hari sebelumnya.  

20130601-IMG_5186

Lihat padang rumput di atas bukit itu? Itulah tujuan kami

20130601-IMG_5196

Menunggu ban

Rute perjalanan pulang kami berbeda dengan rute pergi. Kali ini kami memilih jalur Lamteuba – Krueng Raya. Jalanan di rute ini relatif lebih sepi dibandingkan rute Lamteuba – Seulimeum namun pemandangan yang terhampar jauh lebih indah dibandingkan rute Lamteuba – Seulimeum. Padang rumput berbukit bergunduk-gunduk layaknya perbukitan di serial anak Teletubbies. Perjalanan sangat mengasyikkan sampai suatu ketika di tengah jalan yang kanan kiri masih berupa hutan.. ban sepeda motor yang dikendarai Bang Fauzan bocor! Atas saran dari seorang pengendara sepeda motor yang melintas, lebih baik kembali ke Lamteuba untuk menambal ban karena jaraknya lebih dekat dibandingkan dengan melanjutkan perjalanan ke Krueng Raya. Kami berniat kembali ke Lamteuba, tapi ternyata bukan hanya bocor bannya, tetapi ban dalam sampai keluar dari pembungkusnya. Setelah berdiskusi, diputuskan bannya kami lepas dari motor saja kemudian dibawa ke Lamteuba untuk diganti. Dengan lagak mirip seorang pekerja bengkel, kami bahu-membahu membuka ban dengan peralatan bawaan yang ada di dalam jok motor. Ban berhasil dilepas dan Mas Tardi membawanya kembali ke Lamteuba. Saya dan Bang Fauzan, menunggu Mas Tardi kembali dengan duduk di atas matras sambil makan kacang di pinggir jalan! Orang-orang yang lewat pun menatap heran.

Setengah jam berlalu dan Mas Tardi sudah kembali dengan membawa ban yang sudah sehat. Usai memasang kembali ban motor kami lanjutkan perjalanan. Saya yang memang baru sekali ini lewat jalur ini baru tahu bahwa rute ini tembus di jalan raya kawasan wisata air panas Ie Suum. Cuaca yang cukup panas membuat kami enggan untuk mampir ke sana. Bisa gosong kami kalau pada cuaca terik siang hari malah berendam air panas.

20130601-IMG_5203

Laut Krueng Raya

20130601-IMG_5210

Penampakan Bandara Sultan Iskandar Muda

Sebelum mencapai Krueng Raya, kami mengubah rute menuju daerah Bandara Sultan Iskandar Muda berada, Blang Bintang. Kebetulan karena saya juga belum pernah melewati rute itu, dan waktu pun masih panjang, akhirnya kami lewat kawasan Bukit Radar ini. Di jalur ini pemandangannya juga didominasi dengan perbukitan padang rumput namun lebih terlihat gersang dan panas. Perjalanan menjadi sedikit membosankan ketika jalan yang kami lalui tidak berubah menjadi mulus dan perut mulai merasa kelaparan. Mendekati kantor radar radio milik Bandara Sultan Iskandar Muda kami mulai lupa dengan rasa lapar itu. Pemandangan perbukitan yang membentang luas mengelilingi kawasan Blang Bintang memanjakan mata kami. Mirip dengan pemandangan di danau toba, tentu saja minus danau yang terisi air. Di sisi kanan terlihat pemandangan landasan pacu Bandara Sultan Iskandar Muda, namun dalam ukuran yang tidak cukup besar untuk difoto.

Dan petualangan kami akhir pekan lalu itu berakhir dengan menikmati alotnya daging ayam goreng di sebuah warung makan di dekat Bandara Sultan Iskandar Muda. Saking alotnya daging ayam itu, kami sepakat bahwa yang kami makan adalah ayam atlet marathon!

Ya, mungkin bagi sebagian orang pengalaman kami lost in Lamteuba ini adalah pengalaman buruk dari sebuah perjalanan. Mulai dari tersesat di antah berantah di kaki Gunung Seulawah, kebasahan saat tidur dalam tenda, sampai bocor ban in the middle of nowhere yang jauh dari mana-mana. Tapi bagi kami, it was really fun. Salah satu sebab bisa sangat menyenangkan adalah teman seperjalanan yang sama-sama easy going. Tidak ada yang mengeluh ketika menghadapi masalah. Saya adalah orang yang masih sering meluapkan emosi dengan meletup-letup saat ada masalah. Tapi dengan teman-teman yang klop, perjalanan akan sangat menyenangkan dan memberikan banyak kenangan walaupun banyak kejadian yang tidak menyenangkan. Ya, saya percaya, salah satu kunci utama perjalanan jadi menyenangkan adalah teman yang cocok.

20130601-IMG_5158

Tenda pagi hari

Seulawah.bmp

Rute perjalanan kami (by Mas Tardi)

Iklan