Telusur Sejarah Rokok Kretek di Museum Kretek Kudus


20120814-IMG_3241

Profil Nitisemito

Saya bukan perokok dan malah bisa dibilang sangat anti dengan asap rokok. Hidung saya terlalu sensitif dengan asap rokok. Bahkan sebentar saja terpaksa menjadi perokok pasif, tenggorokan saya bisa gatal dan batuk-batuk. Tak jarang bisa berakhir menjadi radang tenggorokan jika badan saya sedang tidak fit. Tapi walaupun begitu, saya pernah sedikit menyelami tentang sejarah rokok dan kretek di Museum Kretek di kota Kudus, Jawa Tengah.  

Jauh sebelum Djarum merajai dunia rokok kretek di Kudus pada era setelah kemerdekaan Indonesia, seorang bernama Nitisemito sudah lebih dulu mengukir sejarah sebagai pengusaha tembakau paling sukses di awal abad ke-20. Memang, sebelum Nitisemito tercatat juga sosok H. Jamhari yang mengenalkan rokok kretek pada akhir abad ke-19. Berawal dari penyakit sesak di dada, H. Jamhari mencampur cengkeh , tembakau, dan berbagai rempah yang sudah dirajang untuk dijadikan lintingan rokok. Namun, booming rokok kretek terjadi pada masa Nitisemito. 

Daun tembakau pilihan

Daun tembakau pilihan

Di bawah label Tjap Bal Tiga H.M Nitisemito yang lebih diakrabi dengan Bal Tiga, Nitisemito memulai kisah suksesnya pada tahun 1914. Pada tahun 1938, usaha Nitisemito mencapai puncak keemasan. Saat itu Nitisemito memiliki 10.000 pekerja dan memproduksi 10 juta batang rokok setiap harinya. Bahkan, saat itu pula Nitisemito mempunyai seorang tenaga pembukuan yang berasal dari Belanda. Suatu prestasi yang membanggakan di saat masih jamak seorang pribumi menjadi budak Belanda, tapi Nitisemito malah memperkerjakan seorang Belanda. Tercatat juga dalam sejarah bahwa Nitisemito adalah pengusaha pertama yang melakukan promosi dengan menyewa pesawat Fokker untuk menyebarkan pamflet kretek dagangannya. Promosi kreatif lainnya adalah memberikan bonus piring, gelas, radio, dan barang lainnya kepada pembeli rokok kreteknya. Sebuah pencapaian luar biasa untuk seorang pengusaha pribumi pada jamannya, bahkan untuk ukuran sekarang. 

Awal ambruknya usaha konglomerat ini adalah ketika Nitisemito tutup usia pada tahun 1953. Tanpa generasi penerus dan perselisihan di antara ahli warisnya, perusahaan Bal Tiga pun ambruk. Selain itu, perang dunia kedua dan munculnya perusahaan rokok baru seperti Djarum juga memperburuk kondisi Bal Tiga.

20120814-IMG_3244

Kehidupan Kewiraswastaan Nitisemito

20120814-IMG_3240

Dokumen-dokumen milik Nitisemito

Selain sekelumit kisah tentang Nitisemito, di Museum Kretek juga mengupas kisah-kisah lain. Dalam beberapa diorama digambarkan kegiatan pembuatan rokok kretek secara tradisional. Mulai dari bertani tembakau, memilih, menjemur, dan merajang tembakau untuk isi rokok. Tak lupa klobot jagung dikeringkan untuk pembungkus lintingan rokok. Alat-alat tradisional untuk membuat rokok pun tak terlewat dipamerkan. Dokumentasi berbagai merk rokok kretek asli Kudus juga terlihat cukup lengkap. Saya yang tidak mengakrabi dunia rokok hanya bisa mengenali rokok Sukun dan Djamboe Bol yang cukup terkenal dan masih eksis sampai sekarang. Dan, salah satu yang unik bagi saya adalah media promosi rokok jaman sekarang dan dahulu. Jika sekarang media promosi menggunakan barang-barang berdesain keren seperti payung, jam dinding, mug, kaos, topi, dan sebagainya, media promosi dahulu terkesan klasik. Gerabah pecah belah seperti teko, piring, gelas, dan mangkok yang terbuat dari keramik menjadi primadona promosi pada waktu itu.

Museum Kretek

Alat promosi masa kini (atas) dan masa dahulu (bawah)

Saya cukup terkejut saat menyadari bahwa ternyata saya bisa menikmati kunjungan ke Museum Kretek ini. Rokok di pikiran saya selama ini identik dengan asapnya yang mengganggu dan penyakit kronis yang mematikan. Namun di sisi lain, ternyata rokok kretek menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat Kudus, bahkan sampai sekarang. Banyak rantai kehidupan yang tergantung pada sebatang rokok. Kisah kesuksesan Nitisemito pun menjadi pembelajaran tentang usaha dan kerja keras. Dengan usaha dan kerja keras, seorang pribumi biasa bisa naik kasta menjadi golongan kelas menengah yang terpandang pada masa itu. Dan, tanpa sebuah rencana keberlangsungan usaha yang matang, sesukses apapun seorang pengusaha bisa bangkrut dan hancur lebur seketika. Saat ini peninggalan Nitisemito yang masih berdiri kokoh adalah rumah kembar di pinggiran Kali Gelis, dekat dengan Masjid Menara Kudus.

20120814-IMG_3274

Roko kretek produksi masyarakat Kudus

Tak rugi rasanya di suatu siang yang cukup panas sekitar setahun lalu saya memacu motor saya menuju kota Kudus untuk berkunjung ke Museum Kretek ini. Layaknya banyak museum, Museum Kretek ini pun sepi dari pengunjung. Hanya saya sendiri yang saat itu menelusuri jejak sejarah rokok kretek di sana. Terletak di desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus, tidak jauh dari perbatasan kota Kudus dan Demak, Museum Kretek ini bisa dikunjungi pada hari Selasa – Minggu dengan biaya Rp. 1.500,- saja. Tertarik berkunjung ke sana?

Museum Kretek1

Diorama di Museum Kretek

20120814-IMG_3284

Rumah Nitisemito di samping Kali Gelis. Lihat simbol Bal Tiga di atas atap rumahnya?

Iklan