Fragmen Hutan Aceh dan Peran Kita Untuk Melestarikannya


29 Desember 2012

Tubuh saya tanpa beralas pelana berada di atas punggung hewan besar itu, meliuk mengikuti kemana arah langkah kakinya. Melewati pinggir sungai yang cukup deras, tiba-tiba si hewan besar itu berubah arah. Menuju tengah menyeberangi sungai. Untung saja dalamnya sungai tak sampai setinggi tubuhnya. Sesampai di seberang, saya turun dan mulai memandikan mamalia terbesar di Sumatera itu.

Ya, saya pernah bercengkerama dengan gajah-gajah jinak asuhan Conservation Response Unit (CRU) Sampoiniet, Aceh JayaTrekking masuk hutan dan memandikan mereka. Di tengah perjuangan melawan kepunahan, mereka memiliki tugas mulia, yaitu meminimalisasi adanya konflik manusia dengan gajah liar.

Memandikan gajah di CRU Sampoiniet

***

30 Maret 2013

Langkah kaki saya terasa semakin berat. Kaos yang saya pakai sudah basah oleh keringat. Teriknya matahari memang tidak terasa karena terhalang rimbun dedaunan. Tetapi perjalanan bersepeda dan berjalan kaki selama 5 jam membuat tubuh saya basah kuyup oleh keringat. Di sinilah saya, di perbukitan Lampuuk, Aceh Besar, sebuah tempat yang hanya berjarak sekitar 25 km dari pusat kota Banda Aceh.

Saya ke sana untuk menyambangi sebuah pantai tersembunyi yang menawarkan panorama indah, Lange namanya. Sepanjang perjalanan yang saya lihat adalah pepohonan lebat berlingkar kayu tebal. Pasti usia pepohonan itu ratusan tahun. Hutan itu bukan Cagar Alam atau Taman Nasional. Pun saya ragu apakah hutan itu termasuk Hutan Lindung. Tapi bagi saya yang jarang sekali melihat hutan secara langsung, hutan itu sudah terlihat sangat lebat.

Namun suara monyet Thomas Leaf di kejauhan mendadak bisu. Pun dengan dengungan serangga penghuni pepohonan. Suara alam berganti dengan raungan kencang. Di tengah hutan ada suara raungan? Tidak mungkin itu suara motor trail digeber. Mungkinkah?

Semakin mendekat terjawablah teka-teki dalam pikiran saya. Seperti botak yang menodai lebatnya rambut, hutan lebat yang saya lewati menuju Lange gundul di tengah. Raungan gergaji mesin merobohkan satu per satu pepohonan itu. Berbalok-balok kayu sudah rapi tersusun dekat sebuah pondok. Bahkan terdapat lintasan yang dipakai untuk memindahkan balok-balok tersebut ke arah laut. Entah penebangan itu legal atau ilegal, saya masih shock melihatnya.

Panorama indah pantai Lange ternoda dengan pitaknya hutan yang kami lewati. Benar-benar ironis dan miris.

Legal or illegal logging?

***

13 Juli 2013

Berita matinya Papa Genk, salah satu gajah liar penghuni hutan yang dekat dengan lokasi CRU Sampoiniet, mengejutkan saya. Gajah jantan berusia 30 tahun itu mati mengenaskan, leher terputus dan gadingnya hilang. Diduga terbunuh karena ranjau besi yang dipasang oleh masyarakat sekitar.

Akibat dari terbunuhnya Papa Genk, konflik gajah dan manusia di Sampoiniet meruncing. Banyak warga yang tidak menginginkan adanya gajah di sana. Alhasil, gajah-gajah jinak yang tadinya menghuni CRU Sampoiniet dan pernah bercengkerama dengan saya beberapa bulan sebelumnya terpaksa diungsikan ke Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Pidie sampai sekarang.

***

24 November 2013

Kayuhan sepeda saya semakin melambat. Tenaga sudah habis untuk menanjak perbukitan yang cukup terjal. Untung saja pagi itu mega mendung di langit cukup tebal sehingga mampu melindungi kulit dari sengatan matahari. Sedikit bisa meringankan lelahnya tubuh.

Perbukitan Mata Ie yang terletak di kawasan Aceh Besar, di sanalah lokasi saya bersepeda di akhir pekan. Sebenarnya di beberapa bagian bukit masih terlihat rimbunnya hutan. Namun saat semakin jauh mengayuh pedal, terkuak keadaan yang memiriskan hati. Ekskavator menjajah perbukitan. Ceruk-ceruk menganga akibat pengerukan bahan galian.

“Setahun lagi kita sepedaan ke sini tidak perlu menanjak lagi nih. Bukitnya sudah rata”, seorang teman melontarkan sindiran melihat perbukitan yang menganga lebar.

20130621-IMG_5458

Ekskavator mengeruk perbukitan Mata Ie

***

Oktober – November 2014

“Longsor dan Banjir di Aceh Dinyatakan sebagai Bencana Provinsi”, sebuah judul berita sebuah media elektronik mengejutkan saya. Banjir dan longsor parah terjadi di sekitar perbukitan Kulu, Aceh Besar dan Aceh Jaya. Jalan di perbukitan Kulu longsor, jalan raya Banda Aceh – Meulaboh lumpuh, korban banjir di Kecamatan Lhoong terisolasi, dan sebagainya. Padahal daerah Aceh Besar dan Aceh Jaya termasuk wilayah yang memiliki hutan yang cukup lebat. Ironis.

Selama saya tinggal di Aceh, belum pernah saya melihat bencana banjir separah itu. Sampai-sampai bencana tersebut dinyatakan sebagai bencana provinsi oleh Pemerintah Aceh.

***

Peran Pemerintah dan Masyarakat

Itu adalah beberapa fragmen tentang hutan Aceh yang saya temui secara langsung dan saya baca di media elektronik. Betapa telah tampak jelas bukti kerusakan hutan di Aceh beserta dampaknya. Apa yang bisa pemerintah dan kita lakukan?

Penegakan hukum, edukasi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat adalah tiga hal terpenting menurut saya yang harus dilakukan pemerintah. Penegakan hukum secara tegas harus dilakukan untuk memberi efek jera terhadap pembalak liar, pemburu fauna dilindungi, dan semua tindakan apapun yang melanggar hukum dan merusak hutan. Selama ini belum terlihat aksi nyata pemerintah memberi sanksi tegas yang berefek jera kepada para pelanggar hukum tersebut.

Edukasi tentang pentingnya hutan harus dilakukan pemerintah ke semua lapisan masyarakat. Untuk jangka panjang, edukasi bisa dilakukan di bangku-bangku sekolah. Namun melakukan edukasi dan dialog dengan masyarakat yang sehari-hari berinteraksi langsung dengan hutan, rasanya lebih mendesakKarena tugas menjaga kelestarian hutan bukan hanya tugas pemerintah. Semua orang harus ikut berperan.

Banyak dari para pelanggar hukum di hutan melakukan tindakannya, misalnya pembalakan liar, karena terhimpit keadaan ekonomi. Tugas pemerintahlah untuk memberikan jaminan kesejahteraan terhadap semua lapisan masyarakat. Jika kesejahteraan masyarakat meningkat, tentu akan meminimalisasi adanya pelanggar hukum dari golongan ekonomi lemah.

Bagi masyarakat, hal paling kecil yang bisa dilakukan adalah tidak acuh terhadap hutan dan lingkungan. Jika memang belum bisa ikut menjaga hutan secara aktif, misalnya bekerja di bidang konservasi, hal terkecil yang bisa dilakukan adalah ikut mengedukasi diri sendiri dan orang sekitar. Menyebarkan berita-berita tentang lingkungan hidup melalui media sosial salah satunya. Tujuannya adalah untuk menciptakan kesadaran terhadap pentingnya hutan bagi kehidupan manusia.

Bagi yang memiliki kemampuan lebih, dalam hal materi, tenaga, ataupun waktu, bisa secara aktif ikut menjaga kelestarian hutan dengan cara berdonasi untuk kegiatan-kegiatan yang bertujuan pelestarian hutan, ikut membantu secara sukarela dalam bidang konservasi alam, atau sebisa mungkin ikut mengedukasi orang sebanyak-banyaknya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Bagi yang bisa nulis, menulislah tentang pelestarian hutan. Bagi yang bisa melukis, melukislah pesan pelestarian alam, bagi yang punya anak, ajari anak-anak untuk cinta dengan alam, dan sebagainya.

Sekecil apapun tindakan kita untuk peduli terhadap alam, sedikit atau banyak akan berdampak terhadap kelestarian alam.

Referensi

Jangan biarkan pohon ini hilang

Tulisan ini pernah saya ikutkan dalam Lomba Penulisan Artikel dan Essay Fotografi Mongabay Indonesia namun gagal menjadi pemenang. Tulisan asli saya edit dan tampilkan lagi di blog pribadi saya ini untuk dokumentasi.

Iklan