Sekilas Pandangan Mata di Kota Tua Jakarta


“Ke mana ya kita weekend ini? Mumpung belum puasa, jalan-jalannya yang jauhan yuk. Gimana kalau ke Kota Tua Jakarta?”, usul saya kepada istri pada suatu akhir pekan 2 minggu lalu. Anggukan dan senyuman excited menandai persetujuan istri. Kebetulan, Bara juga belum pernah kami ajak ke museum dan jalan-jalan ke kawasan Kota Tua. Maka berangkatlah kami ke Kota Tua.

Hari belum terlalu siang, jarum pendek jam pun baru menunjuk angka 9. Namun sengatan sinar matahari sudah terasa cukup panas. Memasuki kawasan kota tua, terlihat keramaian yang padat. Maklumlah, namanya juga akhir pekan. Berwisata di kawasan Kota Tua masih menjadi hiburan murah meriah bagi sebagian masyarakat ibu kota.

20150606-20150606_103948

Berpose dengan sepeda di Kota Tua

Sepanjang jalan masuk menuju Taman Fatahillah, terdapat banyak penjaja makanan dan minuman lezat, penjaja dagangan souvenir, serta seniman-seniman jalanan. Mereka terlihat sangat bersemangat menjemput rejeki. Kami yang mulai kepanasan tergoda mencoba minuman es cendol yang dijajakan dengan gerobak oleh abang-abang berkulit gelap. Aahhh.. cendol seharga 4 ribu rupiah itu nikmat sekali. Cukup meredakan hawa panas dalam tubuh.

Museum Wayang

Bara sama gundulnya dengan si Cuplis

Bara sama gundulnya dengan si Cuplis

Tak lama berada di luar, kami bergegas masuk ke Museum Wayang untuk menghindari cuaca terik. Benar saja, begitu ngadem di dalam museum, Bara pun tertidur dalam gendongan saya. Ini adalah kali pertama saya berkunjung ke museum yang didirikan pada 13 Agustus 1975 sekaligus museum pertama yang dikunjungi Bara. Ternyata mengajak bayi berusia 5 bulan menjelajah museum seru juga.

Sudah menjadi rahasia umum kalau Indonesia memiliki pelbagai budaya pewayangan. Dari wayang purwa yang terkenal dengan kisah mahabarata dan ramayana, wayang golek yang berasal dari Jawa Barat, boneka Sigale-gale dari Sumatera Utara, sampai wayang mainan yang berasal dari rumput ada di Indonesia. Begitupun koleksi yang dipajang di Museum Wayang, terlihat seperti rangkuman sejarah berbagai macam pewayangan yang ada di nusantara.

Kami cukup terkesima dengan koleksi museum yang sangat unik. Bukan hanya jenis wayang yang sudah terkenal, koleksi boneka si Unyil dan teman-temannya juga dipajang di sini. Sebuah kejutan bagi saya karena tidak mengira ada si Unyil nampang di museum ini. Beberapa koleksi unik lainnya adalah boneka si Pitung dan si Jampang yang asli Betawi. Selain koleksi wayang nusantara, di museum ini juga dipamerkan wayang-wayang (puppet) yang berasal dari luar negeri. Seperti wayang dari Vietnam, China, Inggris, Prancis, bahkan koleksi dari Rusia pun ada di sini.

Boneka ini serem

Boneka ini serem

Setelah melihat koleksi wayang, tak lengkap kalau tidak melihat pertunjukan wayang. Di dalam Museum Wayang ternyata disediakan pertunjukan wayang bagi pengunjung. Mendengar suara gamelan, sinden, dan dalang bersahut-sahutan, Bara pun terbangun. Dia tampak asyik menikmati pertunjukan wayang. Namun, karena tidak memiliki banyak waktu, kami hanya sebentar nonton pertunjukannya. Suk wae yo Le pas sedekah bumi ning omahe Mbah, kita nonton wayang semalam suntuk.

Koleksi Wayang Golek Museum Wayang

Koleksi Wayang Golek Museum Wayang

Wayang kulit koleksi Museum Wayang

Wayang kulit koleksi Museum Wayang

Oh iya, saya baru tahu kalau makam Jan Pieterszoon Coen berada di dalam Museum Wayang. Dinding bertuliskan Bahasa Belanda dan nama sang Gubernur Jenderal VOC itu memang berada tak jauh dari pintu masuk gedung yang dulunya berupa gereja ini. Kami sempat berfoto di depan tulisan tersebut tanpa tahu sebelumnya bahwa prasasti tersebut adalah makam Coen.

20150606-IMG_0751

Pertunjukan wayang di Museum Wayang

Ondel-ondelnya ada dua!!

Ondel-ondelnya ada dua!!

Museum Seni Rupa dan Keramik

Keluar dari Museum Wayang, kami langsung bergegas menuju Museum Seni Rupa dan Keramik. Sekali lagi, alasannya sih untuk ngadem. Gak mungkin kan kami ikut berpanas ria di tengah terik siang menonton pertunjukan musik di Taman Fatahillah sambil menggendong Bara? Bisa-bisa saya nanti di-judge sebagai bapak yang tega sama anak.

Ngadem dulu di depan Museum Seni Rupa

Ngadem dulu di depan Museum Seni Rupa

Memiliki halaman yang luas dan rindang, museum yang dulunya merupakan kantor Dewan Kehakiman Hindia-Belanda ini memang menjadi pilihan pas untuk ngadem. Cukup lama kami duduk di bawah pohon besar tepat di depan gedung. Sambil ngadem, saatnya ngemil bekal yang kami bawa dari rumah dan Bara pun bisa minum ASI sampai puas.

Memasuki ruangan museum, terlihat pengunjung yang cukup ramai. Di antara pengunjung tersebut kebanyakan adalah anak-anak ABG. Cukup salut sih melihat generasi muda berkunjung ke museum. Tapi begitu melihat mereka selalu berfoto selfie ramai-ramai menggunakan tongsis di setiap ruangan, kok saya jadi merasa terganggu ya. Semoga mereka tetap menyerap pengetahuan yang ada di museum  deh, bukan hanya mau berfoto doang.

Salah satu koleksi lukisan di Museum Seni Rupa

Salah satu koleksi lukisan di Museum Seni Rupa

Di museum ini dipamerkan koleksi-koleksi seni lukis, seni rupa, dan hasil kerajinan keramik. Koleksi seni lukis dipamerkan dalam beberapa ruang. Di antaranya adalah ruang masa Raden Saleh, ruang masa Hindia Jelita, ruang Persagi, ruang masa Pendudukan Jepang, ruang masa Pendirian Sanggar, ruang Sekitar Kelahiran Akademis Realisme, dan ruang Seni Rupa Baru Indonesia. Ruangan tersebut dibagi berdasarkan lini masa sejarah seni lukis. Dari yang paling lama pada masa sekitar akhir abad 19, sampai yang terbaru adalah tahun 1960an sampai sekarang. Walaupun cukup banyak koleksi lukisannya, namun untuk lukisan-lukisan berusia tua lebih banyak ditampilkan replika. Terutama lukisan-lukisan milik seniman besar Indonesia, Raden Saleh.

Sekat-sekat ruang pamer museum

Sekat-sekat ruang pamer museum

Memanjakan mata dengan lukisan-lukisan bernilai seni tinggi memang menjadi pengalaman tersendiri bagi saya. Walaupun mungkin tidak memiliki jiwa seni yang tinggi, namun melihat karya-karya hebat ini membuat saya berpikir, bahwa ternyata dalam karya-karya tersebut tersimpan pesan perjuangan para seniman sesuai pada jamannya.

Memasuki ruangan keramik, bau lembab dan pengap menyeruak masuk ke hidung saya. Di sana-sini terlihat cat tembok ruangan yang mengelupas. Sayang sekali jika kondisi seperti ini dibiarkan. Bisa merusak koleksi. Tak tahan dengan bau pengapnya, saya yang baru melangkahkan kaki masuk ruangan, terpaksa keluar lagi.

Koleksi Museum Seni Rupa

Koleksi Museum Seni Rupa

Museum Fatahillah

Museum yang bernama lain Museum Sejarah Jakarta atau Museum Batavia ini sepertinya adalah museum yang paling ramai dibandingkan museum lainnya di kawasan Kota Tua. Bahkan, saat membeli tiket pun antri. Ekspektasi saya membuncah melihat ramainya pengunjung. Namun ternyata saya harus menelan kecewa.

Sandal ini sumber masalahnya

Sandal ini sumber masalahnya

Semua karena sepasang sandal. Ya, memasuki museum ini, pengunjung diwajibkan mengganti alas kaki yang dipakainya dengan sandal jepit yang dipinjami pihak museum. Alih-alih bisa menikmati jelajah ruangan dalam museum yang dulunya merupakan Balai Kota Hindia-Belanda ini, gara-gara sandal itu saya jadi tidak menikmati kunjungan ke museum ini. Saya heran, sebenarnya ganti sandal ini tujuannya apa sih? Bukan gimana-gimana, tapi sandalnya itu lho, licinnya minta ampun. Saya harus jalan ekstra hati-hati biar tidak terpeleset. Apalagi saya jalan sambil menggendong bayi. Akhirnya, daripada saya jatuh, saya copot sandalnya, dan nyeker selama di museum itu.

Salah satu koleksi Museum Fatahillah

Salah satu koleksi Museum Fatahillah

Sebenarnya sih koleksi di museum ini cukup menarik. Beberapa koleksi di antaranya adalah tentang sejarah Jakarta, peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, hasil penggalian arkeologi di Jakarta, dan mebel antik dari abad 17 – 19. Namun entah karena sudah ilfeel sama sandal atau karena memang saya yang terburu-buru atau memang aslinya kurang menarik, saya merasa penataan koleksi di museum ini kurang tertata dengan apik. Rapi sih, tapi rasanya kurang ‘membawa’ ke masa lampau. Kurang terdapat penjelasan yang menarik dalam setiap koleksinya. Malah lebih banyak space ruangan yang kosong yang saya lihat.

Gedung Museum Fatahillah

Gedung Museum Fatahillah

Family photo

Family photo

Sepertinya saya harus berkunjung ke museum ini lagi lain kali. Siapa tahu ada kesan berbeda di kunjungan berikutnya.

Ya, hanya 3 museum itu memang yang kami kunjungi beberapa minggu lalu. Traveling bersama bayi memang tidak se-fleksibel jika dilakukan sendiri. Kami harus menyesuaikan mood dan keinginan Bara. Seperti waktu kami berkunjung ke Museum Seni Rupa dan Keramik, Bara sempat menangis di ruang koleksi Raden Saleh karena ruangannya berada di lantai atas dan cukup panas. Saat berkunjung ke Museum Fatahillah pun kami agak bergegas memasuki satu ruangan ke ruangan lain karena saat itu hari sudah mulai siang. Sudah mulai jam tidurnya Bara. Dan kami memutuskan untuk cepat pulang.

Musisi jalanan di Kota Tua

Musisi jalanan di Kota Tua

Tapi secara keseluruhan, Bara menikmati sih diajak jalan-jalan. Kalau ada rewel-rewel dikit, yah namanya juga bayi. Asal gak rewel sepanjang perjalanan aja sih. Lain kali kita ke sini lagi ya Nak, berkunjung ke museum-museum lain. Kali ini, cukup sekilas pandangan mata di Kota Tua Jakarta ya..

Iklan