Review #JuruBicaraJKT: Ketika Pandji Menjadi Juru Bicara


Ini bukan kali pertama saya menyaksikan stand-up comedy spesial Pandji secara langsung. Sebelumnya, saya pernah lihat Mesakke Bangsaku di Banda Aceh dan Mesakke Bangsaku World Tour di Beijing. Namun ada yang berbeda yang saya rasakan saat menyaksikan langsung Juru Bicara Jakarta. Terasa lebih emosional bagi saya.

10 Desember 2016. Tanggal tersebut sudah saya nantikan sejak Pandji mengumumkan jadwal Juru Bicara World Tour (JBWT) beberapa bulan lalu. Berawal di Shanghai pada April lalu, klimaks di Jakarta 5 hari lalu. Tur 24 kota di 5 benua ditutup megah di Jakarta. Dari awal dirilis jadwal tur tersebut, saya memang sudah berniat menjadi saksi mata penutupan JBWT di Jakarta.

juru-bicara-4

Kartu Prioritas Juru Bicara

The Enthusiasm

Antusias penikmat karya Pandji sangat besar pada pertunjukan ini, tak terkecuali saya. Terbukti, sebanyak 3000 tiket sold out! Lebih dari 2 kali lipat dari Mesakke Bangsaku Jakarta 3 tahun lalu yang terjual 1200 tiket. Saking banyaknya peminat, Pandji hampir saja membuat show kedua, dengan syarat harus terjual 500 tiket. Namun karena tidak sampai terjual 500 tiket, show kedua urung dilakukan.

Saya akui Pandji memang pintar membangun antusias penikmat karyanya. Ngumumin kota-kota tujuan turnya aja pake cara unik yang menarik perhatian. Kartu Juru Bicara disembunyikan di suatu tempat di setiap kota yang sudah ditentukan dan menunggu ditemukan oleh para pemburu kartu. Clue tempat kartu disembunyikan diumumin Pandji di kanal sosial media miliknya. Jadi kayak main teka-teki atau perburuan harta karun gitu kan?

Dan cara tersebut sangat berhasil membuat orang-orang (terutama followers Pandji di sosial media sih) semakin penasaran dengan JBWT.

Naruh jadwal Jakarta sebagai penutup JBWT juga menurut saya adalah cara yang cerdas untuk membangun antusias orang. Karir stand-up Pandji kan dimulai di Jakarta. Penikmat karya Pandji juga banyak di Jakarta. Mungkin paling banyak dibanding di kota-kota lain malah. Usai tur di tiap-tiap kota kan juga banyak ulasan positif dari para penontonnya yang bikin calon penonton Juru Bicara Jakarta penasaran. Gimmick lainnya, Pandji ngasih 1000 Kartu Prioritas kepada 1000 pembeli tiket pertama yang bisa dipake untuk antri foto bareng usai show. Tentu saja antusias calon penonton Juru Bicara Jakarta semakin naik. Dari pemasaran dan promosi yang tepat itulah tiket Juru Bicara Jakarta sold out! Sekitar 1500 tiket presale 1 terjual dalam waktu cepat. 1000-an tiket presale 2 juga tak menunggu lama untuk ludes. Begitu pula tiket harga normal yang dijual di jaringan minimarket 7 Eleven. Padahal harga tiketnya gak bisa dibilang murah juga.

juru-bicara-1

Ekspresi Mr. World Tour

The Show

Tajuk Juru Bicara dipilih karena Pandji ingin menjadi wakil banyak orang dalam menyampaikan gagasan dan keresahan. Makanya, topik-topik yang disampaikan pun termasuk sensitif dan (agak) kontroversial. Lebih sensitif dan kontroversial dibanding topik yang dibahasnya di show-show sebelumnya. Saking sensitifnya, saat menyaksikan langsung, saya membayangkan bakal ada gerombolan massa yang menerobos masuk The Kasablanka Hall dan meminta show diberhentikan paksa.

Seperti halnya show Pandji yang pernah saya saksikan langsung yaitu Mesakke Bangsaku dan MBWT Beijing, Juru Bicara Jakarta ini pun dibuka tepat waktu. Coki Pardede dan Indra Jegel menjadi komika pembuka yang sanggup memanaskan suasana. Opener selesai tampil, saatnya menu utama.

Sejauh pengalaman saya beberapa kali nonton show Pandji, menurut saya Juru Bicara Jakarta memiliki opening yang epic. Sebelum Pandji memasuki panggung, sebuah video diputar, video Pandji selama keliling dunia yang diiiringi lagu Home by Bones Thugs-N-Harmony. Terasa pas banget. Setelah keliling dunia ya saatnya pulang. Juru Bicara Jakarta selain sebagai penutup tur juga tempat Pandji dan timnya pulang. Saya sangat terharu lihat video itu. Terharu dan merinding lebih tepatnya. Walaupun di video tersebut kelihatan yang enak-enaknya aja dari sebuah world tour, seperti jalan-jalan, tapi saya melihat kerja keras di sana. Ada perjuangan di sana. Ada mimpi yang terwujud di sana.

juru-bicara-2

Standing Ovation

Suara tepuk tangan bergemuruh menyertai Pandji naik panggung. Materi yang disampaikan dari soal rating TV, karya, sensor, radikalisme, agama, penegakan HAM, LGBT, ganja, prostitusi, sampai konservasi hewan, adalah isu-isu yang cukup berat. Namun, bukan Pandji jika tidak bisa menyampaikan hal yang berat dan serius menjadi joke berkualitas. Hampir semua set pecah. Saya saja beberapa kali sampai terbatuk-batuk karena kekencengan ketawa. Sampai kelaparan malah. Wong begitu sampai rumah sekitar jam 1.30 dini hari saya mampir ke warung mie goreng.

Tak cuma terhibur, setiap menyaksikan stand-up comedy special Pandji, ada hal baru dan pelajaran yang dapat saya ambil.

“Sedikit lebih beda, lebih baik daripada sedikit lebih baik”. Sebuah celotehan Pandji tentang berkarya. Sebelum saya mendengar itu, saya percaya bahwa karya yang bagus adalah karya yang lebih baik daripada karya orang lain. Tapi ternyata enggak juga. Dari Pandji saya belajar bahwa karya yang berbeda lebih berpeluang meraih sukses. Contohnya saja PSY yang memiliki karya berbeda dibanding musisi Korea lain berhasil meraih kesuksesan di seluruh dunia. Briptu Norman, saat itu melakukan hal yang berbeda dari kebanyakan Polisi, sehingga mampu menanjak cepat dikenal masyarakat. Dan jangan lupakan pula Duo Srigala, yang…. *ups*

“Sebenarnya nggak ada itu namanya radikalisme Islam atau radikalisme Kristen lah. Itu hanya penyebutan media aja. Yang ada itu orang radikal yang kebetulan Islam, atau kebetulan Kristen, Hindu. Jadi nggak ada itu radikalisme Islam. Islam itu mengajarkan perdamaian kok. Semua agama itu mengajarkan perdamaian”, pesan lain Pandji yang mengena di hati saya dan mendapat applause meriah dari penonton. Seandainya banyak orang yang mau bersikap adil dalam melabeli orang, bukan pada agama, saya rasa dunia akan terasa lebih damai.

juru-bicara-3

KLIMAKS

2,5 jam mendengarkan Pandji terasa sangat sebentar bagi saya. Usai bit closing, lagu Selamanya Indonesia by Twentyfirst Night diputar bersamaan dengan 3500 penonton standing ovation (tiap dengar lagu ini saya masih merasa merinding). Pandji terlihat sangat emosional. Sujud syukur dan berurai air mata. Dari bangku gold, mata saya pun memanas. Saya terharu, bangga, dan merinding pada saat yang sama. Saya yakin bukan cuma saya yang merasa begitu.

Sebuah epilog disampaikan Pandji usai selebrasi berakhirnya JBWT. Pandji menyampaikan tentang salah satu kendala JBWT, yaitu saat sponsor utama membatalkan kontrak secara sepihak. Bagaimana Pandji dan tim berjuang melanjutkan dan menyelesaikan JBWT. Salut untuk Pandji.

World tour yang dilakoni Pandji bukan untuk membuktikan pada siapa pun. Pandji hanya ingin membuktikan kepada Dipo dan Shira, 2 anak kesayangan Pandji, bahwa mimpi dapat diwujudkan. Bahkan untuk seorang yang selalu ranking bawah saat sekolah seperti Pandji, dapat mewujudkan mimpi menjadi Stand-up Comedian Indonesia pertama yang melakoni World Tour. Bukan hanya stand-up comedian Indonesia pertama, tetapi juga Pandji mencetak sejarah sebagai orang Indonesia pertama yang melakoni World Tour. 

d13a0503-72cc-4bd1-8a8d-938550a00d47

Pandji selalu ramah saat diajak foto bersama

Pada akhirnya, saya bangga menjadi bagian dari sejarah tersebut. “Makasih banyak ya Ri udah mau nonton gue”, kata Pandji sambil menjabat erat tangan saya usai acara. Bagi seorang pekarya, hal yang paling menyenangkan adalah hasil karyanya diapresiasi. Namun bagi saya, seorang penikmat karya Pandji, paling menyenangkan dan membanggakan adalah saat pemilik karya mengapresiasi dan menghargai saya. Dan, kalimat terima kasih serta jabatan erat Pandji itu menunjukkan apresiasi dan penghargaan kepada saya. Saya yakin bukan cuma ke saya, tapi juga ke ribuan orang lain yang datang dan antri foto bareng dia.

Harusnya saya yang bilang makasih banyak ke Pandji. Telah memberikan hiburan berkualitas berisi petuah dan inspirasi untuk saya. 

Sampai jumpa di tur selanjutnya Dji. Saya pasti akan nonton lagi.

Iklan