Hari Pertama Bara Bersekolah


Waktu memang begitu cepat berlalu. Saya masih ingat menjelang tengah malam 4,5 tahun yang lalu, suara tangisnya pecah di ruang operasi. Saya yang menunggu di luar segera bergegas masuk ke ruang pasca operasi, menatap matanya untuk pertama kali, memegang tangan mungilnya, dan membisikkan adzan di telinga kecilnya. Momen yang mengharukan bagi saya.

Saya juga masih ingat pertama kali ia bisa tengkurap, merangkak, berbicara, berjalan, dan berlari. Hari-hari menyuapinya MPASI juga seperti baru kemarin. Mengajarinya buang air di toilet sendiri pun seperti baru saja berlalu.

Sekolah_Hikari_1[1]

Sarapan di depan kelas

Tapi ternyata ia sekarang sudah besar. Kemarin, Senin (15/7) adalah hari pertama Bara masuk sekolah TK A. Tak ingin ketinggalan menyaksikan salah satu langkah kecil menuju kemandirian dalam hidupnya itu, saya sengaja mengambil cuti seharian. Saya tunggui ia dari masuk sekolah pukul 07.30 sampai pulang pukul 10.00. Bukan, bukan karena khawatir. Tapi saya ingin merekam kenangan ini untuk saya ceritakan lagi saat ia beranjak besar.

Tak ada kendala berarti pagi kemarin. Ia yang biasanya agak susah bangun pagi, cukup kooperatif mempersiapkan diri sebelum berangkat sekolah. Hanya saja ia belum mau sarapan pagi. Alhasil sesaat sebelum kelas dimulai ia minta makan bekal yang sudah disiapkan ibunya.

Ia bersemangat memakai semua perlengkapan sekolah yang bergambar Spider-man, mulai sepatu, tas ransel, botol minum dan kotak makan yang berisi susu UHT gambar spider-man juga. Ya, beberapa bulan terakhir ini ia suka sekali sama Spider-man. Hanya helm yang dipakainya saja yang tidak bertema spider-man karena belinya sudah lama. “Bara gak mau helm Tayo ah. Mau helm Spider-man aja”, protesnya.

Hari_Pertama_Sekolah[1]

Pose sebelum berangkat sekolah

Sekolah Hikari

Sekolah_Hikari_2[1]

Time is money

Bara bersekolah di TK Hikari, Setu, Tangerang Selatan. Bisa dibilang kami jatuh cinta pada pandangan pertama saat berkunjung ke sekolah ini 2 tahun lalu. Lingkungannya asri, penuh pepohonan. Kontur tanah naik turun dan berundak juga sangat menarik hati Bara. Terdapat pula jam dinding besar terpasang di atas menara yang unik sekali. Walaupun saat itu kami berkunjung ketika libur, tapi kami langsung yakin Sekolah Hikari adalah salah satu kandidat kuat sekolah untuk Bara.

Baru pada beberapa bulan lalu kami akhirnya memutuskan memasukkan Bara ke Sekolah Hikari setelah mencari tahu lebih lanjut dan mengamati secara langsung kegiatan belajar dan mengajar di sana.

Walaupun namanya berasal dari sebuah kata Bahasa Jepang yang berarti cahaya, tapi Hikari sendiri adalah singkatan dari HIKmah Anak negeRI. Mengutip dari situsnya, sekolah ini memiliki visi dan misi mengantarkan anak-anak —para generasi penerus calon pemimpin bangsa ini— memiliki watak yang mulia dan pengetahuan dasar yang kokoh, menjadi manusia-manusia yang mandiri dan mampu bekerja sama dalam menyongsong masa depan yang lebih baik.

Salah satu poin plus bagi kami adalah bekerja sama. Ya, kami percaya salah satu hal penting di masa depan bukanlah tentang persaingan dan perlombaan yang saling menjatuhkan. Tapi kerja sama dan kolaborasi untuk bersama menjadi yang terbaik. Coba saja lihat hubungan antar negara saat ini yang lebih banyak saling bekerja sama daripada saling bersaing dan bermusuhan. Atau para youtubers, sudah banyak kan yang saling berkolaborasi membuat konten video demi menjaring viewers yang lebih banyak lagi.

Sekolah_Hikari_6[1]

Kakak-kakak SD sedang berolahraga (foto diambil saat survey beberapa bulan lalu)

Beberapa hal yang ada di sekolah ini juga sangat filosofis. Jam besar yang terpasang di menara di tengah sekolah melambangkan bahwa waktu harus selalu dihargai. Lanskap tanah halaman sekolah yang tidak diratakan dan naik turun juga didesain agar kemampuan motorik anak lebih terlatih. Selain itu, sekolah ini juga sangat ramah lingkungan. Ruang kelas memiliki lubang ventilasi di bagian bawah dan atas dinding yang memungkinkan udara sejuk dari luar kelas masuk melalui bawah dan udara panas di dalam kelas leluasa keluar melalui atas. Bangunan kelas pun dibangun menggunakan bata ekologi yang ramah lingkungan.

Sekolah Hikari percaya, belajar haruslah menyenangkan. Metode belajar yang diterapkan kerap dilakukan dengan bermain dan cara belajar ala Jepang. Setiap murid diajak untuk lebih menghargai proses ketimbang hasil. Sekolah ini juga membuat sistem penilaian hasil belajar tidak diperingkat karena lebih mengutamakan pemahaman tentang kecerdasan majemuk (multiple intelligences).

Sekolah_Hikari_5[1]

Ruang kelas TK dilengkapi jendela kaca berbentuk geometri

Dan satu hal yang terpenting bagi kami akhirnya menyekolahkan Bara di sini adalah karena Sekolah Hikari sekolah umum, bukan sekolah khusus untuk anak yang memiliki suku, agama, ras yang sama. Biar Bara terbiasa dengan perbedaan sejak kecil. Biar Bara tahu bahwa berbeda itu tak apa dan biasa saja. Bahwa toleransi itu sangat mudah dilakukan.

Dan memang benar prakteknya seperti itu. Salah satu contohnya, selain seragam sekolah, tak ada keharusan memakai sesuatu yang sama. Alih-alih mengharuskan bersepatu warna hitam seperti saat saya sekolah dulu, Sekolah Hikari membebaskan anak memakai sepatu warna apa saja. Asal nyaman dan memudahkan anak dalam memakainya. Tidak selalu menuntut keseragaman, tetapi membiasakan keberagaman.

Ketika Pelukan Menjadi Pengisi Semangat

family_selfie1.jpg

family selfie sebelum berangkat hari pertama sekolah

Kembali ke cerita hari pertama sekolah Bara. Suasana sekolah pagi kemarin cukup ramai. Tanpa canggung Bara langsung turun motor dan naik jalan berundak menuju kelasnya begitu sampai sekolah. Sesekali ia berteriak, “permisi kakak. Bara mau lewat”, ke kakak-kakak SD yang menghalangi jalannya. Sesampai di depan kelas pun mau salam dan cium tangan ibu guru. Ternyata ia anak yang berani.

Kegiatan belajar kemarin pun tak ada kendala berarti. Bara dengan mudah akrab bersama kawan-kawan barunya. Cukup sering berkomunikasi dengan ibu guru. Dan lucunya, ia cukup sering juga keluar kelas mencari-cari kami. Bahkan, dari dalam kelas sering langsung teriak mencari kami, “Bapak.. Ibuk.. sini!”. Kami yang memang stand by di samping kelas sambil mengintip melalui jendela kaca tentu langsung menghampiri.

“Bara mau dipeluk Ibuk”, katanya saat kami hampiri. “Pak, tadi Bara pinter bikin gedung tinggi pake balok kayu”, katanya beberapa menit kemudian. Hampir 20 menit sekali ia memanggil atau keluar kelas menghampiri kami. Selalu minta peluk dan sayang.

Tak apa Nak. Bapak ibu maklum banget. Sejak kecil kamu belum pernah menghabiskan waktu yang cukup lama tanpa kami temani. Bahkan bisa dibilang selama ini waktu Bara hampir 24 jam selalu bersama ibunya. Baru akhir-akhir ini saja ia sudah gak mau ditemani kalau bermain sepeda bersama teman-temannya di sekitar rumah.

Mungkin baginya pelukan dan cium sayang dari bapak ibunya adalah hal paling nyaman yang dapat memunculkan keberanian. Mungkin baginya pelukan dan cium sayang dari kami menambah kepercayaan dirinya di lingkungan baru. Mungkin baginya pelukan dan cium sayang dari kami adalah pengisi semangatnya.

Sekolah_Hikari_3[1]

Ngintipin dari jendela

Ah Nak, bukan cuma kamu. Bapak dan Ibu juga merasakan kalau berpelukan bersamamu menjadi penyemangat kami menjalani hidup. Walau nanti Bapak Ibu tak selalu ada di sampingmu, yakinlah peluk, cium sayang, serta doa kami akan selalu mendampingimu. Tetap semangat menjadi pembelajar.

Tabik.

Iklan