My Cycling Weekend: Ujong Pancu


Lihatlah peta Pulau Sumatera. Aceh berada di ujung paling utara pulau. Amati lebih dekat. Tahukah tempat yang benar-benar berada di ujungnya? Ujong Pancu namanya. Well, mungkin bukan tepat berada di ujung. Tapi paling tidak Ujong Pancu adalah tempat terujung Pulau Sumatera yang paling gampang dijangkau dengan kendaraan.

Ujong Pancu adalah salah satu rute favorit saya bersepeda. Akhir pekan lalu (11/1), pertama kali di 2014 saya bersepeda lagi setelah beberapa pekan absen, saya bersama beberapa kawan menyusur kembali rute Ujong Pancu. Walaupun sudah terlalu sering saya menyusur rute ini, tapi selalu menyenangkan saat mengajak kawan yang baru pertama kali menyusur rute ini.

Bersepeda di Ujong Pancu

Bersepeda di Ujong Pancu

Lanskap Ujong Pancu

Lanskap Ujong Pancu

Udara dingin pagi hari yang menerpa Banda Aceh di awal tahun masih terasa membelai kulit. Padahal seharusnya matahari yang sudah mulai meninggi bisa menghangati, namun awan kelabu sisa gerimis malam sebelumnya membentengi bumi dari kehangatan. Saya selalu suka atmosfer pagi yang lambat di sabtu pagi. Jalanan lengang, tidak dipenuhi oleh manusia-manusia kantoran pengejar absensi pagi. Apalagi di sepanjang jalan Sultan Iskandar Muda menuju Ulee Lheue.

Menjauh dari Ulee Lheue, kami berbelok menuju ujung pulau. Atmosfer lengang semakin terasa begitu memasuki perkampungan yang berada di pesisir pantai. Saat angin sepoi dan suara gesekan aspal dengan jentera sepeda membelai telinga, mata kami terbelalak melihat hamparan perbukitan di sisi kanan dan pesisir pantai yang ditumbuhi tanaman bakau di sisi kiri. Jangankan kawan bersepeda yang baru pertama kali melihat pemandangan ini, saya saja yang sudah sering masih terkesima.

Masjid Indrapurwa

Masjid Indrapurwa

“Lihat tugu itu. Setinggi itulah gelombang tsunami di sini sembilan tahun lalu”, saya bercerita kepada seorang kawan saat melihat tugu setinggi pohon kelapa berdiri tegak di depan sebuah masjid. “Masjid ini peninggalan Kerajaan Indrapurwa, salah satu dari tiga kerajaan yang membentuk Aceh Lhee Sagoe. Dua lainnya Indrapatra dan Indrapuri terletak di Aceh Besar juga. Kalau ketiganya ditarik garis lurus, membentuk segi tiga”, lanjut saya bercerita di depan gerbang bangunan bertuliskan Masjid Indrapurwa. Serasa jadi pemandu wisata bercerita tentang sejarah Aceh kepada kawan yang belum banyak tahu tentang Aceh. Maklum saja, kawan saya ini baru setahun tinggal di Banda Aceh.

Awas, ada buaya!!

Awas, ada buaya!!

Mendekati perkampungan nelayan, angin yang berhembus segar mulai terpolusi. Bau kotoran lembu menyeruak. Bukan rahasia kalau di sekitar Ujong Pancu hewan ternak seperti lembu bebas berkeliaran di jalan. Navigasi sepeda kami yang tadinya santai menjadi zig-zag menghindari ranjau-ranjau darat berbau tidak sedap. Bukan hanya menghindari kotoran lembu, kami juga berbagi jalan dengan lembu yang sedang asyik bersantai di tengah jalan. Tapi bagi saya, masih mending bau kotoran lembu daripada bau asap rokok atau asap kendaraan.

“Peringatan! Awas ada buaya di alur ini”, begitu bunyi sebuah papan penanda yang berada tepat di pinggir rawa dekat pantai. “Serius ada buaya di sini?”, dalam hati saya penasaran. Bukan lantas saya terjun ke rawa berharap bertemu buaya beneran saking penasarannya. Tapi berkali-kali saya ke sana belum pernah tahu atau dengar tentang buaya di Ujong Pancu. Usai bersepeda, saya langsung mencari tahu tentang buaya ini. Ternyata saya ketinggalan berita. Pada Agustus 2013 lalu memang terlihat penampakan buaya di rawa tersebut. Sedikit kontroversi, buaya yang sempat ditangkap dikembalikan kembali ke habitatnya karena dipercaya sebagai ‘penghuni’ rawa tersebut (sumber: prohaba). Mungkin untuk antisipasi, dibuatlah papan peringatan tersebut.

Sudah lama juga sejak saya terakhir kali main-main ke Pantai Lhok Mata Ie, pantai tersembunyi yang berada di balik perbukitan Ujong Pancu. Rasanya dulu sepi. Tapi melintas di depan peternakan ayam yang dipakai untuk lahan parkir pengunjung pantai, saya terhenyak. Kendaraan bermotor roda dua banyak berjejer. Rupanya semakin populer di kalangan pejalan. Tempatnya yang tersembunyi bukan lagi menjadi halangan. Mungkin saking banyaknya pengunjung, sebuah papan penanda berisikan aturan kunjungan dipasang di pintu masuk. Semoga saja para pejalan yang berkunjung ke sana tetap bertanggungjawab ya.

Aturan berkunjung ke Lhok Mata Ie

Aturan berkunjung ke Lhok Mata Ie

Aktivitas pagi nelayan

Aktivitas pagi nelayan

Jalan aspal sudah habis. Mentok. Maju lagi sudah laut lepas. Lagi-lagi kami bertemu sebuah papan penanda. Kali ini bukan tentang buaya atau aturan kunjungan ke pantai tersembunyi. Tetapi papan petunjuk letak sebuah makam Syeikh Hamzah Fansuri al-Farisi. “Siapa beliau?”, rasa penasaran kembali menyeruak dalam hati saya. Sambil menyusuri jalan setapak berbatu di pinggang bukit yang berbatasan langsung dengan laut lepas, saya bertanya-tanya. Kurang lebih berjalan kurang lebih 500 meter, saya sampai di makam tersebut. Hanya ada saya dan seorang kawan seperjalanan di sana. Karena tidak tahu siapa sebenarnya yang dimakamkan di sana, kami memilih cepat kembali. Ternyata, hasil mencari tahu di mesin pencari, Syeikh Hamzah Fansuri al-Farisi adalah seorang ulama besar Aceh pada jaman Kerajaan Aceh pada Abad ke-15 lalu. Ah, memanglah pengetahuan saya tentang ulama masih sangat minim. Ulama yang namanya sempat tersohor seantero Asia pada jamannya saja saya tak tahu. Walaupun beliau termasuk cendekia muslim jenius, tapi ternyata letak makamnya yang berada di tengah hutan di bukit Ujong Pancu ini masih misteri (sumber: Tribunnews). Nah lho?!

Selalu ada hal baru yang saya dapat saat bersepeda akhir pekan. Kali ini bukan menemukan lanskap baru yang memukau. Bukan pula menemukan rute baru yang belum banyak orang tahu. Tapi, susur rute yang sudah sering dilalui pun bisa menemukan hal baru. Tentang buaya dan seorang ulama mahsyur adalah beberapa di antaranya.

Sapi di tengah jalan

Sapi di tengah jalan

Makam Syeh Hamzah Fansuri al-Farisi

Makam Syeh Hamzah Fansuri al-Farisi

Lokasi Ujong Pancu

Lokasi Ujong Pancu

 

Iklan