My Cycling Weekend: Rute Darul Imarah


“Ramadhan gini kalau weekend aku bingung mau ngapain. Padahal biasanya pagi-pagi udah bangun tidur terus bersiap sepedaan”, suatu ketika Bang Fauzan, teman sepedaan saya bercerita. Kadang ingin juga sepedaan saat puasa. Tapi kalau pagi sepedaan, riskan sekali. Tubuh bisa kehilangan cairan dan dikhawatirkan bisa membahayakan keberlangsungan ibadah puasa. Kalau sore? Ah, jalanan di Banda Aceh dan sekitarnya kalau sore menjelang buka puasa macet di mana-mana. Sepanjang jalanan banyak orang yang berjualan takjil. Pun dengan para pembeli-pembelinya. Tumpah ruah di jalanan.

Walaupun off dari kegiatan bersepeda, saya masih punya cerita tentang kisah kami bersepeda menyusuri persawahan di Darul Imarah, salah satu kecamatan di Aceh Besar yang bersinggungan langsung dengan kota Banda Aceh. Rute Darul Imarah ini bisa saya bilang sangat pendek. Ya, terkadang kaki malas mengayuh sepeda untuk menempuh jarak yang jauh. Apalagi waktu itu cuaca mendung.

20130614-IMG_5304

Markas TNI

Baru pertama kali menyusuri rute ini saya langsung jatuh cinta. Melewati markas TNI, tak terlihat pleton-pleton prajurit sedang berlatih. Beberapa tentara terlihat sibuk membersihkan lingkungan di sekitar markas mereka. Ada yang menyapu, ada yang bersih-bersih selokan, dan ada yang memotong rumput lengkap dengan alat pemotongnya yang berisik. Terkadang senyum dan sapa kami lemparkan ke mereka. Namun beberapa tampak tak acuh, asyik dengan kegiatan pagi mereka. Walaupun tak tampak prajurit yang sedang berlatih, namun telinga kami mendengar letusan-letusan peluru di kejauhan. Sepertinya mereka berlatih jauh di dalam perbukitan. Simbol-simbol nasionalisme juga bertebaran di sekitar markas. Selain tulisan penyemangat seperti, “NKRI Harga Mati” dan “Ragu-ragu, Lebih Baik Kembali ke NKRI”, terlihat juga sebuah bendera merah putih berdiri gagah di atas bukit.

20130614-IMG_5308

Green Paddy Field

Kayuhan sepeda kami tidak terlalu kencang pagi itu. Kami bersepeda lambat karena terbius dengan pemandangan persawahan hijau. Lihat gambar di atas. Adem bukan dilihat di mata? “Bersepeda pagi menemukan pemandangan hijau indah seperti itu. Nikmat manakah yang kau dustakan?”, saya langsung update status di jejaring sosial memamerkan citra persawahan hijau ini.

Tergerak untuk menikmati hijaunya sawah dengan lebih paripurna, kami memutuskan untuk berbelok masuk ke tengah sawah. Kami angkat satu persatu sepeda kami melewati selokan yang membatasi sawah dengan jalan raya. Tak lama, kami menemukan sebuah tempat berumput yang lapang. Sepeda kami lempar begitu saja, dan kami tergoda untuk melakukan pose levitasi hore nista seperti ini…

satu…

20130614-IMG_5321

Percobaan pertama.. gagal!

dua…

20130614-IMG_5322

Percobaan kedua.. gak kompak!

tiga…!!

20130614-IMG_5323

Percobaan ketiga.. yayy!!

Puas berfoto, kami beranjak melanjutkan kayuhan sepeda. Enaknya bersepeda di pedesaan dan persawahan adalah lalu lintas kendaraan bermotor tidak terlalu ramai. Kami merasa nyaman tanpa klakson berbunyi memburu-buru kami, tanpa debu jalanan yang terbang dari ban-ban kendaraan berat, tanpa polusi dari asap kendaraan-kendaraan butut.

Mendung yang semakin menebal mulai menurunkan rintik kecil hujan. Kami yang masih jauh dari rumah memutuskan untuk rehat sejenak di warung kopi Solong II di Jalan Soekarno – Hatta. Dan benar saja, begitu kami duduk dan mulai menyesap minuman pesanan kami, hujan turun deras sekali. Tangan saya tertular hangatnya gelas yang berisi sanger panas. Saya hirup aroma wangi kopi bercampur dengan susu. Tak ragu saya sesap sedikit demi sedikit. Dan, di kejauhan persawahan dan perbukitan hijau menjadi putih pucat tertutup  hujan. Ah, Aceh.. Ada banyak alasan untuk semakin cinta sama Aceh.

20130614-IMG_5329

Sesaat sebelum hujan mengguyur (dari jendela Solong II)

Iklan