Kereta Api, Transportasi Andalan Masa Depan Indonesia


Saya pernah bilang bahwa kereta api adalah moda transportasi favorit saya. Bahkan sejak beberapa bulan lalu saya mengandalkan Kereta Rel Listrik (KRL) untuk berangkat dan pulang kerja, kereta semakin menjadi favorit saya. Dan semoga sampai kapanpun nanti kereta api akan tetap menjadi favorit saya.

Terakhir kali saya naik kereta api jarak jauh adalah bulan lalu saat mengajak istri dan Bara, anak saya yang berusia 2 tahun 8 bulan, dari Jakarta ke Malang. Kereta api juga sudah menjadi pilihan utama saya saat mudik lebaran 3 tahun terakhir ini. Akhir bulan ini pun saya akan kembali melakukan perjalanan jarak jauh menggunakan kereta api.

Ya, sesering itu saya bercengkerama dengan kereta api. Sering yang makin lama mengkristal menjadi cinta. Seperti kata orang Jawa, witing tresno jalaran soko kulino —cinta karena terbiasa—. Cinta yang menumbuhkan rasa peduli. Cinta yang bertransformasi menjadi afeksi. Kepedulian itulah yang membuat saya memiliki harapan, keinginan, dan imajinasi lebih untuk masa depan Kereta Api Indonesia yang pada tahun ini tepat berusia 72 tahun. Dan inilah beberapa di antaranya.

1. Perbaikan Layanan Keterlambatan Kereta Api

20130901-img_6628

Stasiun Sawahlunto

Saya pernah merasakan buruknya pelayanan PT. Kereta Api Indonesia (PT. KAI) dalam menangani keterlambatan kereta sekitar 3 tahun lalu. Kereta terlambat selama 4 jam sampai ke stasiun tujuan, kompensasi yang saya dapat hanya 1 cup popmie dan 1 botol air mineral.

Memang, sesuai Peraturan Menteri Perhubungan No PM 47 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Minimum untuk Angkutan Orang dengan Kereta Api, keterlambatan lebih dari 3 jam kompensasi yang didapat penumpang adalah makanan ringan dan minuman. Sedangkan keterlambatan lebih dari 5 jam kompensasi yang didapat penumpang adalah makanan berat dan minuman. Tapi menurut saya pemberian kompensasi itu masih kurang menghargai waktu yang dimiliki penumpang. 3 jam waktu milik penumpang hanya dihargai makanan ringan dan air mineral, atau popmie dan air mineral dalam kasus saya.

Menurut saya sendiri sebagai penumpang, toleransi untuk keterlambatan kereta api tanpa kompensasi adalah 1 jam. Di atas 1 jam, kompensasi yang layak bagi penumpang adalah makanan ringan dan air mineral. Sedangkan di atas 2 jam, seharusnya diberikan kompensasi makanan berat dan air mineral. Rasanya itu akan lebih memanusiakan pelanggan dan menghargai waktu yang terbuang percuma.

Kita semua pasti pernah mengalaminya: marah, bete, emosi, dan mudah tersinggung hanya gara-gara lapar. Hal itu karena kadar glukosa pada darah menurun dan mengakibatkan berkurangnya nutrisi di dalam otak. Otak mengartikan hal ini sebagai situasi yang mengancam jiwa. Inilah yang menyebabkan kita mudah marah saat lapar. Nah, bagi banyak orang, terutama saya, mengalami keterlambatan kereta adalah hal yang sangat mengecewakan dan membuat marah. Jika diberi makanan untuk menghilangkan rasa lapar, tentu akan dapat mengurangi kemarahan akibat keterlambatan tersebut.

2. Perbaikan Sarana Toilet di Stasiun

img_3849

Di atas Kelas Bisnis Ciremai Ekspress

Belum lama ini, saya pernah terpaksa menggunakan toilet yang tombol flush-nya tidak berfungsi di Stasiun Palmerah. Saya pun pernah terpaksa menahan hajat karena tidak tersedia air di Stasiun Cisauk. Di lain waktu, pernah pula saya antri selama hampir setengah jam untuk menggunakan toilet di Stasiun Gambir. Saya harap di masa depan tidak ada lagi yang mengalami hal-hal tersebut seperti saya.

Ribuan orang setiap hari keluar masuk stasiun. Bahkan untuk stasiun besar seperti Gambir, penumpang per hari bisa mencapai puluhan ribu orang saat arus mudik dan balik. Tapi fasilitas toilet yang tersedia di stasiun secara umum masih belum memuaskan.

Seharusnya toilet di stasiun memiliki standar seperti toilet di bandara dan mall atau pusat perbelanjaan modern yang sangat nyaman. Jumlah toilet yang pas tanpa perlu lama mengantri, toilet yang selalu berfungsi dengan baik, toilet yang bersih dan wangi, serta toilet yang ramah anak.

3. Jalur kereta api yang terintegrasi antar pulau

 

20130901-img_6583

Kereta Wisata Danau Singkarak

Indonesia adalah negara kepulauan. Indonesia sangat butuh moda transportasi modern yang bisa diandalkan. Dan saya melihat kereta api Indonesia di masa depan adalah salah satu jawaban dari masalah transportasi yang ada saat ini.

Saya pernah bermimpi suatu saat saya bisa jalan-jalan ke Banda Aceh naik kereta api dari Jawa. Saya pun pernah membayangkan serunya traveling dari Jawa ke Bali naik kereta api. Toh, Jawa dan Sumatera hanya terpisah sekitar 30 km melewati Selat Sunda. Jawa dan Bali malah hanya terpisah laut sekitar 5 km. Dari Inggris ke Perancis saja yang jaraknya kurang lebih 100 km melalui Selat Dover saja ada kereta api yang melintas lho. Harusnya Indonesia juga bisa.

Tak perlu semua pulau di Indonesia terhubung rel kereta api memang. Tapi paling tidak untuk pulau yang terpisah selat yang berjarak dekat, menghubungkannya dengan rel kereta api menurut saya sangat mungkin dilakukan. Seperti Jawa – Sumatera dan Jawa – Bali. Paling tidak kalau sudah ada kereta api yang menghubungkan Sumatera – Jawa – Bali, antrian masuk kapal dan menyeberang selat dapat dikurangi. Bisa lebih efektif dan efisien waktu juga. Arus mudik dan balik saat lebaran pun akan lebih bersahabat dengan adanya jalur kereta api yang terintegrasi antar pulau tersebut. Distribusi barang kebutuhan pokok juga akan lebih lancar.

4. Tersedianya Sleepers Train di Kereta Jarak Jauh

img_4065

Kabin dalam Argo Anggrek

Saat bulan lalu saya mengajak istri dan Bara, anak saya, ke Malang, kami memilih naik kelas eksekutif Kereta Api Bima. Perjalanan dari Stasiun Gambir sampai Stasiun Malang ditempuh selama 15 jam. Perjalanan yang bisa dibilang sangat lama. Dan lumayan membuat pantat capek karena terlalu lama duduk. Andai PT. KAI punya sleepers train, alangkah lebih nyamannya.

Sleepers train atau gerbong kereta yang menyediakan tempat tidur sudah jamak terdapat di berbagai negara. Tak usah jauh-jauh membayangkan sleepers train yang ada di Eropa sana. Di Malaysia dan Singapura pun sudah ada. Beberapa tahun lalu saya pernah naik kereta Senandung Sutera dan memilih sleepers train untuk menempuh perjalanan Kuala Lumpur ke Singapura selama 7 jam. Rasanya sangat nyaman. Istirahat pun bisa lebih maksimal.

Semoga saja PT. KAI nanti bisa menyediakan sleepers train. Perjalanan kereta api jarak jauh yang menempuh waktu cukup lama perlu dilengkapi dengan sleepers train sebagai pilihan untuk kenyamanan penumpang. Bahkan di kereta api Senandung Sutera, harga tiket per orang di gerbong sleepers train lebih murah dibandingkan harga tiket di kelas eksekutif gerbong duduk. Jika PT. KAI mau, pasti bisa juga memiliki sleepers train dengan harga lebih terjangkau.

5. Perlintasan Kereta Api yang Steril

Pemandangan inilah yang setiap hari saya alami saat antri menyeberang rel kereta di Stasiun Cisauk. Terlihat menyeramkan dan berbahaya bukan? Memang, di beberapa stasiun sudah mulai dibangun underpass untuk perlintasan penumpang. Beberapa sudah mulai beroperasi malah. Tapi saya lihat masih banyak stasiun yang masih belum memiliki underpass atau penyeberangan melalui atas lintasan kereta.

Di masa depan, semua stasiun kereta menurut saya harus memiliki underpass atau penyeberangan di atas lintasan kereta untuk memberikan standar keamanan bagi penumpang. Kalaupun tidak semua stasiun, paling tidak stasiun yang memiliki arus penumpang yang banyak harus diprioritaskan. Bukan hanya stasiun yang melayani KRL, tetapi juga stasiun yang melayani kereta api jarak jauh.

Pun dengan perlintasan kereta api sebidang atau perpotongan sebidang antara jalur kereta api dengan jalan. Sudah berapa kecelakaan yang terjadi di perlintasan sebidang? Terakhir kali yang sempat bikin heboh, metromini tertrabak KRL di perlintasan Angke tahun 2015 lalu. Kecelakaan tersebut menelan belasan korban.

Selain rawan kecelakaan, perlintasan sebidang juga menjadi salah satu penyebab terhambatnya kecepatan kereta api. Saat melewati perlintasan sebidang tertentu, kereta api terkadang menurunkan kecepatannya untuk berhati-hati.

Oleh karena itu, perlintasan sebidang ini juga harus mulai ditiadakan satu per satu sampai benar-benar tak ada lagi. Bisa dengan cara membangun fly over, underpass, atau mengalihkan jalan ke arah yang tidak melintasi rel kereta. Apalagi jika wacana dioperasikannya kereta api jarak jauh terwujud, tentu penghapusan perlintasan sebidang ini menjadi suatu keharusan. Selain untuk keamanan dan kenyamanan pengguna jasa PT. KAI serta pengguna jalan raya, juga untuk memperlancar dan mempercepat waktu tempuh kereta.

6. Tersedianya Kereta Api Cepat Jarak Jauh

 

img_4057

Stasiun Semarangtawang

Kereta Bima yang saya naiki beberapa waktu lalu dari Gambir ke Malang menempuh jarak 907 km. Dengan perjalanan sekitar 15 jam, rata-rata kecepatan kereta adalah sekitar 60,5 km/jam. Cukup lambat ternyata.

Kereta api jarak jauh tercepat saat ini di Indonesia adalah Argo Muria, Argo Anggrek, dan Argo Sindoro yang melayani Stasiun Gambir – Semarangtawang PP. Kereta tersebut menempuh waktu 5,5 jam untuk menyelesaikan jarak 445 km. Kecepatan rata-ratanya sekitar 81 km. Masih relatif lambat juga rupanya.

Di Shanghai, Tiongkok, terdapat kereta tercepat di dunia, Shanghai Maglev. Kereta tersebut hanya membutuhkan waktu 8 menit untuk menempuh jarak 30 km dari Pudong International Airport ke Longyang Road. Rata-rata kecepatannya 225km/jam. Wow! Tidak sebanding kan sama kereta api kita?

Kereta api cepat jarak jauh memang sudah menjadi wacana yang akan diwujudkan oleh PT. KAI. Tapi entah kapan. Kalau saya sih inginnya gak muluk-muluk yang sampai nyaingin kecepatan Shanghai Maglev di Tiongkok atau Shinkansen di Jepang. Tapi paling tidak cukup cepat hingga memangkas waktu tempuh Jakarta – Semarang menjadi sekitar 2 atau 3 jam saja. Atau Jakarta – Malang hanya sekitar 6 atau 7 jam saja. Semoga saja bisa segera terwujud.

Melihat antusias orang yang luar biasa pada helatan KAI Travel Fair di Jakarta Convention Center (JCC) pada akhir bulan lalu membuktikan bahwa kereta api adalah moda transportasi yang menjadi primadona bagi masyarakat. Harapan dan keinginan banyak orang untuk menikmati perjalanan yang aman, nyaman, dan terjangkau digantungkan ke PT. KAI sebagai operator kereta api di Indonesia. Dan saya, melihat perkembangan dan niat baik PT. KAI dalam memperbaiki layanannya, saya optimis kereta api akan menjadi andalan transportasi Indonesia di masa depan. 

Iklan